Showing posts with label mind. Show all posts
Showing posts with label mind. Show all posts

02 March 2010

BANYAK YANG MERASA BISA, TAPI SEDIKIT YANG BISA MERASA

Akhir pekan kemarin, saya menghabiskan waktu bersama rekan-rekan PPI – Rennes berkunjung ke Lanion, sebuah desa di wilayah barat Perancis. Perjalanan ini terasa unik untuk saya, karena tercipta banyak sekali perbincangan yang tak pernah dirancang sebelumnya. Mulai dari hal yang tidak penting menuju hal yang makin tidak penting (hehe). Banyak terjadi pertukaran pikiran. Hal tersebut saya rasa karena saya adalah orang yang termuda kedua diantara yang ada.

Pembicaraan pun beragam, dari hal mengenai agama, nostalgia PPI Rennes masa lalu hingga politik. Hal yang menggelitik untuk saya ketika pembicaraan beranjak ke persoalan politik. Para sesepuh berpendapat, Indonesia bisa berada dalam kondisi baik bila generasi pemimpin sekarang dipangkas alias dibumihanguskan. Karena mereka-mereka itu yang nanti nya secara tidak langsung mengajarkan dan mewariskan permasalahan kepada generasi muda seperti saya.

Terkadang, permasalahan kompleks seperti korupsi dan hal-hal yang terkait dengan negara membuat prihatin dan ada perasaan seperti salah pilih. Komentar saya saat itu, mereka itu wakil rakyat, wakil suara saya dan teman-teman tapi apa mereka bisa merasakan apa yang kita rasakan. Dimata saya, semua orang yang mengaku membela rakyat itu semua tergolong orang yang merasa bisa namun mereka tidak bisa merasa. Iya, saya yakin mereka pasti seolah-olah merasa bisa memperbaiki negara yang kondisi nya compang-camping, namun mereka tidak bisa merasakan kondisi rakyat terutama yang kesulitan untuk hidup sehari-hari.

Pembicaraan pun berlanjut. Namun kejadian yang terjadi siang hari ini waktu Indonesia, kembali mengingatkan saya akan pembicaraan akhir pekan. Gerombolan pria bersetelan jas terlihat mirip dengan pemuda putih abu-abu yang sibuk menunjukkan kehebatannya kepada sesama pelajar namun beda sekolah. Sungguh ironis.

Perihal banyak yang merasa bisa tapi sedikit yang bisa merasa itu sepertinya tidak hanya dalam urusan para petinggi negara itu, namun bisa diartikan untuk banyak hal. Terkadang, kesombongan, rasa angkuh dan kurang nya bersyukur membuat orang berada pada posisi tersebut. Tidak dipungkiri, saya pun dapat dikatakan beberapa kali terperangkap dalam kalimat tersebut.

Yah apapun itu, marilah merubah stigma tersebut menjadi banyak yang merasa bisa (karena yakin akan kemampuannya) dan harus bisa merasa (keadaan lingkungan sekitar).

Memang, perbincangan dengan rekan yang lebih tua akan membuat kita bisa berpikir dari sisi lain.

11 February 2010

IBADAH DAN/ATAU ILMU

"Carilah ilmu yang tidak mengganggu ibadah, dan carilah ibadah yang yang tidak mengganggu menuntut ilmu kita" (Imam Hasan Al Basri)
Sewaktu di Jakarta, aku pernah mengikuti pengajian yang diisi oleh Ustadz Ihsan Hakim. Beliau termasuk pengisi rutin di tempat tersebut. Karena rutin, pengajian ini menggunakan silabus alias topik nya berhubungan antara hari yang satu dengan berikutnya.

Bulan itu, aku ingat sekali, pembahasannya mengenai Adab Menuntut Ilmu. Kala itu, aku sudah mendapat kepastian akan berangkat ke Perancis untuk mengambil gelar Master namun belum banyak yang mengetahui, hanya segelintir orang saja.

Entah, hal apa yang membuatku membuka file pengajian pada malam ini. Di file tersebut aku menemukan quote seperti yang tertulis diatas. Aku coba telaah dan ingat-ingat lagi materi yang disampaikan waktu itu, namun ternyata ingatan ku tidak sebagus yang aku kira.

Satu hal yang pasti, aku merasakan sebuah keraguan, dilema ataupun inbetween. Dua hal antara ilmu dan ibadah, hal yang saat ini aku rasakan sangat karena ditempat aku ini, kedua hal tersebut sulit untuk berjalan beriringan. Aku pun tidak bisa menyikapi hal tersebut dengan cara yang tepat. Mungkin tepat disini dalam artian tepat menurut agama.

Menurut pengajian yang aku ikuti disini, para penceramah selalu berkata bahwa kita sebagai warga minoritas dan selalu terdesak akan keadaan, sehingga kita bisa melakukan ibadah sholat dengan jama’. Itu salah satu contoh. Namun, bila kembali pada kalimat diatas, berarti proses mencari ilmu itu mengganggu kehidupan ibadah.

Ketika aku menanyakan case yang sama kepada beberapa ustadz kondang yang pernah aku hadiri ta’lim nya. Mereka memberikan pandangan, sesulit apapun, selalu usahakan sholat tepat waktu dan tinggalkan aktivitas keduniawian. Aku sangat setuju dengan ini, tapi berarti secara tak langsung apabila aku usahakan untuk sholat tepat waktu dan tanpa di jama’, itu akan mengganggu proses pencarian ilmu aku disini.

Mungkin, aku harus bertemu langsung dengan Imam Hasan Al-Basri untuk menanyakan penjelasan kalmat beliau dan solusi terbaik darinya.

05 February 2010

BILA SEMUA ORANG MENGETAHUI IBADAH SHOLAT

Kendala hidup di negara yang agama Islam bukan sebagai agama kaum mayoritas kembali terasa. Aku lagi-lagi merasakan sulitnya memperoleh waktu dan tempat untuk beribadah. Jadwal kuliah yang menyambung tanpa henti diiringi workgroup untuk tugas kelompok kembali menjadi kendala. Terlebih, sudah 2 kali berturut aku mengganti Sholat Jumat aku dengan Zuhur. Itupun harus di Jama’ dengan Ashar.

Banyak pihak mengatakan, kita terjebak dalam keadaan. Namun aku selalu berpikiran, mengapa kita kalah dengan aturan buatan manusia. Mencoba mengakali keadaan dengan kecerdasan yang aku miliki namun tetap, di lubuk hati ini merasakan ketidaksempurnaan dalam beribadah. Ibarat kata, kurang afdhal.

Sebuah contoh, aku pernah mencoba “colongan” izin keluar kelas untuk tujuan sholat zuhur tanpa di jama dengan ashar. Keluar dan wudhu di wc yang jelas-jelas tidak ada keran untuk kaki. Sehingga mengakibatkan lantai menjadi becek. Dilanjutkan dengan mecari ruangan kosong. Setelah berkeliling dan akhirnya menemukan ruangan, sholat nya pun dirasa tidak tenang. Simpel, aku masih merasa ragu dan takut dikira aneh bila saja tiba-tiba ada orang non-muslim datang membuka pintu ruangan. Aku yakin nantinya dia akan terheran. Padahal, aku tahu benar bahwa, semua lapisan tanah di bumi ini layak dijadikan tempat sujud. Tinggal menaruh kertas atau kain bersih di bagian muka, Voila kita sudah bisa beribadah.

Memang, disini ada wadah pengajian online. Namun akhir-akhir ini, aku benar-benar butuh sebuah “charger hati” langsung. Duduk sila mendengarkan sang ustadz berceramah dan mengajukan pertanyaan. Bukan hanya berupa mendengar suara dan diiringi dengan kegiatan lain seperti membuka email ato membereskan buku.

Dipikir lebih dalam, beribadah dan beraktifitas di negara Indonesia benar-benar seimbang dalam hal proporsi. Pembagian waktu yang adil dan tersedianya tempat tanpa perlu takut dilihat orang. Berharap suatu saat semua makhluk ciptaan Allah dapat mengerti mengenai ibadah sholat. Aku yakin tidak perlu was-was bila sholat sendirian di ruangan kosong. Dan aku tidak perlu berbohong izin ke wc. Dan pastinya, aku bisa melaksanakan sholat jumat tanpa diganti dengan zuhur bahkan aku pun tidak perlu menjama.

09 December 2009

EXAMINATION feat EXECUTION

setelah di lempar ke dalam kolam
pose standard setiap "korban"
with my friends
(ki-ka : mita-iman-radit-yogas-amaz-eja-ME-anjas-karim-joshua-sammy-prasti-keeky-tashya-sarah)


Karena beberapa materi untuk ujian hari esok aku simpan di folder berjudul “lulus MSc, Kerja, Nikah”, aku pun kembali mengotak-atik laptop. Entah, ketika melihat foto-foto ini, sedikit menjadi cambuk baru untuk segera lulus. Menurut temanku, harus nya aku bisa melewati ujian semester S2 karena aku berhasil lulus sidang skripsi S1, which is tekanan nya lebih berat.

Yup, agree..! Aku melihat foto diatas, terlihat sekali senyum yang lepas dari wajahku. Foto tersebut diambil pada tanggal 08 Juli 2008, seminggu setelah ibu ku ulang tahun dan 5 hari setelah musibah yang melanda rumahku.

Sudah menjadi tradisi di FEUI, bila berhasil lulus dari sidang skripsi dan kompre, di lempar ke dalam kolam dan bermandikan air kotor, biasanya telah di beri ludah, di lempar air cola dan bahkan telur. Tempat ini dikenal dengan “menara” atau say hello to the fountain, begitulah kata alumni terdahulu.

06 December 2009

ABSOLUTELY GLOOMY

Huff, kembali menulis tapi untuk hal buruk tuh rasa nya bener-bener meresahkan. Pikiran campur aduk kayak buah-buahan dimasukin blender untuk dijadikan jus. Pikiran pertama melayang akan hari esok. Hari dimana jadi hari pertama dalam sejarah hidup, melakukan final exam di jenjang master. Untuk exam dalam bahasa inggris, sebelumnya udah pernah tapi perasaan tegang kali ini sangat berbeda. Ketakutan mendapat hasil yang kurang memuaskan seolah menjadi beban di bahu ini.

Pikiran lain yang berada di otak ini adalah, cerita tentang wanita itu. Entah, obrolan dengan wanita itu tentang seorang pria kembali muncul disaat yang kurang tepat. Yup, kami sedang ada masalah. Well actually itu bukan sebuah masalah tapi bila dibiarkan akan menjadi masalah. Dan hal ini baru kami alami dan pertama juga aku merasakan sebuah masalah yang berasal dari pihak luar. Akan berbeda bila masalah berasal dari internal, karena hal itu masih bisa diubah. I hope there is nothing happen.

Mencoba mencari sedikit selingan setelah mematikan laptop. Diantaranya dengan mencuci pirng dan membuat nasi. Lalu sedikit merapihkan tumpukan kertas yang berujung membuka kembali kartu yang diberikan oleh wanita itu. Di dalam kartu itu, Ia menuliskan surat yang isinya:

“Dear My Lovely Rizki,
Sayang, Goodluck yaah. Kamu pokoknya gak boleh sedih ninggalin aku dan semua orang yang kamu sayang disini. Kamu harus selalu semangat ! InsyaAllah disana kamu selalu dikasih kemudahan, rezeki, dan limpahan kasih sayang dari Allah. Amien..

Aku bakal nunggu kamu disini kok... InsyaAllah kita bisa ngelewatin ini semua.. Dan justru bikin hubungan kita semakin kuat ke depannya.

Yaudah pokoknya kamu ga boleh patah semangat ya kuliahnyaa..
Harus rajin dan bikin orangtua kamu Bangga,, aja aja fighting :)

PS: semoga kamu suka jaketnya yaa, walaupun aku gak ikut, at least jaketnya bs nemenin kamu hihi

LOVE
-your princess wrabbit-
Keep smiling !


Antara terharu, sedih dan bahagia. Bahagia karena kembali mengingatkan bahwa ada yang menunggu aku saat aku pulang nanti. Sedih karena, rasa rindu kembali bergejolak. Huff perfect.

Pernah mendengar quotes “Crying is not a sign of weakness. It's a language you use when no word can explain how you feel”. Yup, my heart is crying and scratching inside. Benar-benar tanpa sebab dan tidak ada kata yang bisa mengekspresikan akan keadaan malam ini. Absolutely Gloomy.
Cezembre 318, 061209, 19.47

30 November 2009

Tentang Seseorang ( Dian Sastro - AADC )

Kulari kehutan kemudian menyanyiku
Kulari kepantai kemudian teriakku
Sepi, sepi dan sendiri
Aku benci
Aku ingin bingar
Aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga
Jika kusendiri
Pecahkan saja gelasnya
Biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ah.. ada malaikat menyulam
Jaring laba-laba belang
Di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya
Biar terdera
Atau aku harus lari kehutan
Belok ke pantai

27 November 2009

Sembelihlah Sifat Kambing Yang Ada Pada Diri Kita

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha. Hari ini merupakan momen yang baik karena ini adalah hari Qurban. Idul Adha adalah hari menyembelih binatang kurban. Hampir semua Muslim tahu tentang itu. Namun, kali ini, saya tidak akan membahas tata cara penyembelihan hewan kurban.

Disamping menyembelih hewan kurban, Idul Adha dijadikan alat untuk mengingat bahwa kita harus menyembelih sifat kambing yang ada dalam sifat kebinatangan manusia. Ya, manusia adalah binatang yang berpikir, begitulah beberapa Orang Bijak mendeskripsikan. Hanya saja, yang membedakan, manusia memiliki kemampuan nalar dan bahasa. Sedangkan, binatang yang lain tidak memiliki kemampuan bahasa dan nalar.

Balik ke topik, Apa yang dimaksud dengan sifat kambing yang menempel dalam diri manusia?

Manusia berwatak kambing adalah manusia tanpa tuntutan, pingin maunya sendiri. Menjadi anak buah, senangnya hanya mendemo; menjelek-jelekkan; dan jika bisa, melengserkan. Tetapi, jika giliran menjadi pemimpin, ujungnya sama saja; korupsi, manipulasi, kolusi, dan berbagai si si si lainnya. Kambing juga sulit dikendalikan. Kalau disuruh jalan sendiri, arahnya tak karuan arah. Ketika dituntun dari depan mereka tak mau jalan. Sementara itu, jika dituntun dari belakang, mereka malah belok ke kanan atau kiri. Lebih dari itu, jika melihat betina lain, mereka selalu ingin menjadikannya 'istri'. Begitu pula jika ada makanan, kambing tega menyerang yang lain agar tak kebagian.

Allah sebenarnya bukan menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, Ismail. Tetapi, bermaksud mengajari manusia agar membunuh sifat-sifat kambing atau binatang, yang ada pada dirinya. Karena itu, ketika pedang hampir mengenai leher Nabi Ismail, Allah menggantinya dengan kambing.

Sedangkan, bagi kita, Belilah kambing yang baik untuk disembelih dan jangan dari uang korupsi atau mencuri. Kemudian, mengambing-hitamkan orang yang diberi sebagai ikut makan uang korupsi atau curian. Tindakan ini justru lebih buruk dari kambing hitam yang "dikambing-hitamkan".

Diintisari dari hasil pengajian PPI Perancis 27.11.2009
http://radiopengajian.com/chat-box/

26 November 2009

Gema Takbir Berkumandang Dalam Angan

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar. Laa Illaha Illalahu Huwallahu Akbar.
Allahuakbar wa lilla hilham.

Malam ini terasa sunyi. Anganku melayang pada bayangan rumah yang berada di jalan Purnawarman 64 Bandung. Tempat aku dan keluarga menghabiskan waktu idul adha yang jatuh di penghujung minggu. Aku membayangkan senda gurau dan canda tawa keluarga besar. Besar dalam jumlah anggota keluarga dan besar dalam jumlah permasalahan.

Semenjak aku disini, telinga ini masih kerap mendengar permasalahan baru di keluarga ayahku. Entah, dulu ingin sekali lari dari masalah keluarga yang ada, namun sekarang aku justru merindukan itu. Yeah rite, you dont know what you’ve got till you miss it.

Memang, keluarga besar dari bapakku berbeda dengan keluarga besar dari ibuku. Dari ibuku lebih terasa nuansa islami nya. Di tempat keluarga besar ibuku, aku terbiasa melakukan takbiran bersama, berzikir lalu mendengarkan wejangan dari sang Kakek yang masih terlihat segar. Rasanya aku ingin berada di Dago saat ini juga. Tapi tidak dengan keluarga bapakku yang hanya ada perbincangan antar penghuni rumah.

Rutinitas ku pagi hari biasanya adalah rebutan kamar mandi. Memang aneh dan lucu saja kalo di ingat kembali. Rumah yang mempunyai 3 buah kamar mandi namun dikerubuti oleh 16 orang yang mempunyai tujuan sama, pergi sholat idul adha berjamaah.

Biasanya, aku yang paling belakang dalam urutan mandi, karena malas terburu-buru dan di gedor-gedor oleh anggota keluarga yang lain. Sambil menunggu urutan, aku biasanya memanaskan mesin mobil dan merapihkan interior sebelum digunakan anggota keluarga ku.

Berangkat menuju tempat sholat pun, biasanya mobil aku membuka jendela agar tetap terdengar sayup-sayup gema takbir. Pasca idul adha, aku kembali ke Purnawarman. Menghabiskan waktu hingga siang hari dengan menyantap ketupat dan opor. Setelah itu, biasanya kembali lagi ke Dago untuk pemotongan hewan qurban. Oh indahnya membayangkan itu semua.

Kini, hanya laptop yang memutar MP3 Holy Quran dan beberapa kertas dan bahan untuk presentasi esok hari. Sebagai kaum minoritas, tidak ada tanggal merah untuk Idul Adha esok hari. Aku hanya bisa sabar, ikhlas dan tetap berusaha agar dapat menyelesaikan studi ku. Membuat bayangan kumpul idul adha bisa menjadi sebuah aktifitas nyata di tahun mendatang.

Rennes, 9 Dzulhijjah 1431 H, 22.46

18 November 2009

Tiada Yang Akan Lebih Membahagiakan Hati Selain ..........

Harusnya aku mempersiapkan diri untuk presentasi esok hari. Namun karena sedikit jenuh, aku akhirnya kembali membuka blog dan menambahkan beberapa artikel yang sudah aku taruh sebelumnya. Seperti blog dibawah ini mengenai kunjungan ayahku ke Rennes.

Akhir-akhir ini, hidupku terasa sedikit menejemukan. Mungkin karena tugas yang tak kunjung usai dan presentasi di depan mata serta harus menghadapi UAS.

Walau keadaan seperti ini, rasanya diri ini selalu mendapat suntikan semangat. Selain dari Ayah yang baru saja datang, Ibu yang mulai sering berkirim sms lagi, dan adekku yang mengirim email dengan laporan penting ga penting nya yang diiringi dengan barang titipan dan berita kejadian buruknya, aku pun mendapat support dari wanita itu. Iya, wanita yang mengisi hidupku dan membuatnya jadi lebih berwarna.

Aku tak pernah berhenti bersyukur bisa mendapatkan wanita seperti itu. Di pikiran ku saat ini adalah, betapa bahagia hati ini bisa memiliki wanita yang sholehah dan terus berusaha mencintai Sang Pencipta. Bagiku, tiada yang akan lebih membahagiakan hati selain daripada mencintai seseorang yang benar-benar mencintai Sang Pemilik Hati Tersebut.

Terima kasih ya Allah yang telah menghadirkan wanita itu.

13 November 2009

PERNAHKAH KAU MERASA?

Pernahkah kau merasa takut akan sesuatu yang pasti terjadi.
Misal, kita pasti semua tahu akan datang nya ajal namun kita masih merasakan ketakutan. Mungkin ajal itu bukan untuk kita namun untuk orang sekitar kita.

Pernahkah kau merasa bahwa lingkungan tidak mendukung untuk berbuat baik.
Misal, kita telah tahu segala konsekuensi dari perbuatan namu lingkungan kita justru menghalalkan itu.

Pernahkah kau merasa turun motivasi dalam berjuang karena ketakutan itu.
Lalu, apa yang kau lakukan?

KULIAH DISINI PUN BERAWAL DARI MIMPI

Beberapa hari yang lalu, aku baru saja mendapat message di facebook dari teman lama sewaktu aku masih kuliah di Binus. Bisa dibilang, pria ini adalah teman dekat waktu itu karena kami berasal dari kaum pribumi dan domisli nya pun berada di daerah selatan. Message itu menyiratkan kekagetan karena dia baru mengetahui bahwa aku sedang menuntut ilmu di Perancis. Karena message itu pun, aku memberi gambaran singkat.

Beberapa hari kemudian, aku dan teman baru ku yang berasal dari Indonesia disini membahas mengenai proses keberangkatan ke negeri Napoleon. Oleh sebab itu, aku mencoba untuk berbagi beberapa hal mengenai itu.

Keputusan aku untuk melanjutkan pendidikan S2 itu sudah dimulai dari Mei 2008. Tepat setelah pulang umroh akhirnya aku berani memutuskan untuk itu. Setelah sebelumnya, ayahku selalu mengajak berdiskusi tentang hal ini. Beliau menyarankan tiga negara yaitu, Belanda Jerman dan Perancis. Aku pun melakukan survey-survey hingga berakhir pada keinginan mengambil master di Swedia.

Dari lingkungan pertemanan aku di kampus, mereka belum mengetahui rencana ini. Sampai akhirnya, aku, Karim, Ifan dan Ira sedang makan bersama di Bebek Cabe Ijo di daerah Rawamangun. Mereka menyatakan keheranannya bahwa aku tidak ikut-ikutan heboh dalam mengirim CV untuk pekerjaan. Kejadian ini terjadi sebelum aku melaksanakan sidang skripsi, dan sudah lumrah terjadi di lingkungan kampus UI bahwa selalu mengirim CV sebelum lulus sehingga setelah wisuda dapat langsung bekerja.

Aku pun bercerita kepada mereka tentang rencana aku. Dari mulut mereka lah, aku yakin semua teman-teman kampusku baik dekat maupun tidak akhirnya mengetahui rencanaku ini. Tak lama setelah kejadian itu, aku kembali mendengar kabar bahwa, Mita, yang juga satu permainan dengan ku ingin melanjutkan studi di Eropa. Seolah mendapat teman satu tujuan, kami pun saling bertukar informasi dari pameran pendidikan hingga tempat kursus.

Kami pun memulai langkah perburuan. Rata-rata semua kampus di Eropa membutuhkan nilai TOEFL minimal 550. Jadilah langkah aku dimulai dengan mengambil kursus TOEFL. Karena saran dari sepupuku, aku memutuskan untuk bergabung dengan EEC atau English Education Centre. Tempat itu berkantor pusat di daerah Slipi namun aku mengambil kelas di kantor cabang di daerah Bintaro Sektor 7. Sekedar informasi tambahan, tempat TOEFL terbaik di Jakarta adalah Direct English di daerah Sudirman. Tempat itu menjadi pilihan teman kelas ku bernama Sasa yang sekarang akhirnya dia berada di Oxford, Inggris.

Perburuan juga dilakukan seperti mencari kampus lewat pameran di mulai dari benua Asia, Australia hingga Eropa. Biasanya dilakukan bulan Agustus hingga Desember. Tempatnya pun beragam dan biasanya di JCC, Hotel Four season ataupun Balai Kartini.

Beberapa bulan telah berlalu dan ternyata aku tidak mencapai targetku untuk kuliah di Swedia. Aku bertukar informasi dengan temanku yang bernama Wildan. Dia mempunyai niat untuk mengambil S2 di Perancis dan sedang dalam proses untuk ikut kursus bahasa. Ayahku pun sempat sebel karena dulu sempat menolak saran nya walau akhirnya dia mendukungku.

Kursus berjalan, proses pengiriman dokumen pun mengikuti perjalanan kursus ku. Proses itu dimulai dari pengiriman email as enquiry, lalu ternyata aku sangat beruntung, contact person dari kampus yang aku inginkan itu, mempunyai rekan di Jakarta. Aku pun menemui partner kampus tersebut yang bekerja untuk Edu Coach International bernama Madame Fida, begitulah aku memanggilnya.

Salah satu persyaratan yang harus aku lalui adalah interview dengan dekan di calon kampus aku. Guess what, itu dilakukan pada H-1 sebelum pemilu daaaannn saat Jamiroquai konser di Sentul. Aku pun melewatkan hal itu. Sebulan lebih setelah itu, akhirnya aku mendapat surat yang disebut Letter of Acceptance. Bahagia dan sedih bercampur seketika. Bahagia karena berhasil namun sedih karena menghitung hari saat-saat di Jakarta.

Setelah mendapat pengumuman, saatnya pengurusan visa. Prosesnya tidak sesulit yang saya kira. Bagian paling sulit adalah meminta surat jaminan atau surat pernyataan dari bank dan pembuatan travel insurance. Asuransi perjalanan rata-rata dibuat dengan tanggungan dalam bentuk dollar dan itu bisa berlaku untuk membuat visa ke Eropa.

Visa keluar, saatnya pergi.. Mungkin saya akan share detail nya di blog ya berbeda.. c u.

12 November 2009

APAKAH AIR MATA INI MENGERING?

Airmata adalah wujud ekspresi yang mempertemukan kesedihan dan kebahagiaan. Dengan air mata pula Allah melunakkan setiap qalbu hamba-hambaNya…

Teringat jelas, Januari 2006
Ketika aku meratapi segala masa lalu aku yang kelam
Kebahagiaan…ketika Allah karuniakan aku hidayah Nya

Namun…
Seiring dengan berjalannya waktu…
Terkadang air mata ini seolah mengering..
Raga dan pikiran kerap berbuat khilaf kembali

Tak ada lagi rintihan akan ratapan masa lalu yang dengannya Allah karuniakan kita untuk bertaubat
Kecemasan akan hari akhir yang Allah janjikan kedatangannya pun hanya muncul sekilas

Terkadang…aku tertipu dengan amal shaleh yang telah aku lakukan..
Seolah… itu telah berada pada titik impas dari keburukan aku...

Padahal..Aku..
Dosa dan kemaksiatan yang aku lakukan…
Sudah pasti tercatat dalam catatan masa lalu kita yang kelam

Namun,
Segala amal shaleh yang aku lakukan
Belum tentu Allah terima…

Iya, aku yakin karena amal shaleh yang aku lakukan belum tentu Allah terima,
Oleh karena itulah…aku sangat berharap padaMu
Disana ada tangisan untuk memohon dengan segenap diri agar Allah menerima setiap amal ibadah kita

Karena dosa dan kemaksiatan sudah pasti tercatat
Oleh karena itulah…disana ada rintihan seorang hamba
Yang terus memohon agar Allah mengampuni segala dosa-dosanya…
Hal kecil seperti zina mata, menjama’ sholat wajib dan jarangnya sholat tepat waktu dan masih banyak lagi yang aku yakin Allah Maha Mengetahui

Indahnya hidup ini hanya akan terasa saat kita merasakan Allah dalam setiap langkah dan tarikan nafas kita…
Selalu merasakan kasih sayang Nya dalam setiap episode kehidupan kita…
Membasahi setiap malam-malam kita..
Membasahi setiap pertemuan kita di penghujung malam

Menangis dalam gelap malam dimana saat itu hanya ada aku dan Dia…
Ungkapkanlah semua masalahmu pada Nya…
Karena Dia lah yang memiliki semua jalan keluar dari setiap masalahmu

Menangis bila malam tadi terlewat dari menangis kepada Nya…
Bila rasa kantuk menahanku untuk bangkit dan bermunajat
Karena sungguh..
Boleh jadi diri ini dinilai begitu hina sehingga tidak Allah berikan kesempatan untuk bersua dengannya…

Karena boleh jadi dosa-dosa kita di waktu siang yang menjadi penghalang kita mendapat kesempatan bermunajat kepada Nya…

Ya Allah…
Andaikata Engkau dapati hati ini begitu kotor sehingga keringlah air mata ini, bersihkanlah ia…
Sehingga diri ini dapat merasakan kembali indahnya bermunajat kepada Mu

Ya Allah..
Andaikata Engkau dapati hati ini dalam keadaan mati dan membusuk
Maka gantikanlah ia dengan hati yang baru…yang dengannya kami memulai kehidupan yang baru…

Dalam keagungan Mu kuharapkan kasih sayang Mu…

Cezembre 318, 22.41
-terinspirasi dari pengalaman, pemikiran pribadi dan sms seorang Bunda pengasuh FOSMA 165-

10 November 2009

kemampuan untuk menyesuaikan diri adakah kemampuan untuk tetap berdiri atas

Bianglala itu bagaikan hidup, terkadang di atas dan kadang di bawah


Sewaktu aku masih di Jakarta, apabila aku menghabiskan hari minggu ku dirumah, biasanya tiap jam 19.00, aku menonton Metro TV dan menyaksikan tayangan Mario Teguh Golden Ways. Aku yakin, banyak orang yang menyukai motivator yang terkenal dengan sapaan “super”, tapi tidak sedikit pula teman-teman di twitter aku yang dengan terang-terangan antipati dengannya.

Diluar pro kontra keadaan itu, biasanya otak aku memfilter apa yang aku saksikan dari tayangan itu. Beberapa menit yang lalu, aku sedang mengotak-ngatik folder laptop aku, dan ingin memindahkan data-data yang kuanggap tidak penting ke harddisc extrernal ku. Lalu aku menemukan file microsoft word berjudul "adaptasi dari MTGW". Rupanya aku mencatat isi acara itu. Acara yang disiarkan pada bulan Mei itu membahas topik berjudul adaptasi. Aku rasanya mencatat isi acara itu, karena ada hubungannya dengan rencana kuliahku.

Diawal acara, Mario Teguh berkata “kemampuan untuk menyesuaikan diri adakah kemampuan untuk tetap berdiri atas”. Jangan kita mengasumsikan berada diatas adalah menjadi seorang penguasa. Namun mari berpikir bahwa, roda kehidupan dan dunia usaha berputar dengan kecepatan dan kekuatan yang tidak teratur. Dan untuk dapat tetap berdiri tegak di dalam ketidakteraturan maka kita harus teratur dalam cara-cara penyesuaian dan pertumbuhan diri kita. Ingatlah bahwa pekawan dari ketidakteraturan adalah keteraturan. Itu sebabnya siapapun yang ingin menjadi pemilik dan pemimpin bagi kehidupannya sendiri, maka dia harus menteraturkan diri nya sendiri.

Dari hasil “ceramah” itu, aku pun menyimpulkan bahwa setelah mampu beradaptasi di negara ini, aku pun harus bisa hidup teratur. Hidup teratur menurut aku saat ini adalah, mampu mengatur waktu antara agama seoperti ibadah, urusan kuliah, urusan dengan pacar dan waktu senggang. Urusan kuliah bisa berupa tugas dan belajar. Lalu mengatur urusan kamar seperti cuci piring, masak, cuci pakaian dan menyetrika. Dan memanfaatkan waktu lenggang atau kosong untuk hiburan seperti browsing atau chat.

Lalu, bagaimana hasilnya? Aku rasa bila mengacu pada definisi yang aku buat sendiri, rasanya aku belum bisa hidup teratur, namun jauh lebih baik dari waktu hidupku di Jakarta. Saat ini, tugas terkadang keteteran atau mungkin memang tugasnya banyak. Tapi dulu, aku mengerjakan tugas justru di kampus. Urusan rumah seperti memasak terkadang masih terbengkalai dan apabila aku sedang malas masak, pasti pada akhirnya mencari makanan simple seperti telor atau omlet. Di Jakarta saat itu, aku pasti mengandalkan pembantu atau ibuku. Untuk urusan setrika, aku lakukan di akhir pekan. Aku yakin di Jakarta, aku menyetrika apabila aku ingin pergi ke undangan saja. Sedangkan urusan dengan pacar, aku menyempatkan mengirim email atau sms apabila sulit untuk membuka laptop. Untuk urusan yang terakhir ini, aku pun masih terbantu dengan fasilitas telepon gratis ke Indonesia kepunyaan temanku asal Indonesia juga. Aku yakin, apabila di Jakarta, pasti aku akan lebih sering keluyuran entah dengan pacar atau teman.

Untuk urusan ibadah, aku cukup bersyukur mempunyai jadwal sholat waktu setempat dan posisi masjid bisa dibilang lumayan deket dengan tempat tinggalku. Masalah yang acap kali aku jumpai adalah, men jama’ solat zuhur dan ashar di hari selasa dan di hari yang aku mempunyai jadwal kuliah siang. Untuk sholat jumat, sejauh ini aku baru sekali melewatkannya karena alasan kuliah juga. Aku pun bersyukur disini, faktor cuaca membuat aku bisa untuk menambah amalan puasa sunnah. Terakhir, aku pun menemukan support group baru yaitu Pengajian Online yang biasa diadakan hari Jumat dan Sabtu malam waktu setempat. Dibandingkan dulu, aku memang jadi lebih jarang sholat berjamaah di masjid.

Semoga keteraturan yang sedikit lebih baik dari waktu di Jakarta dan kecepatan dalam beradaptasi ini, bisa bertahan lama terutama ketika aku kembali ke tanah air Indonesia.

09 November 2009

Yestrday, Present, and Future

Yesterday is a history.
Tomorrow is a mystery.
Today is a gift, that's why we call it the present.

Mungkin sudah banyak yang tahu mengenai quotes itu. Aku sangat senang sekali maksud dari kalimat itu. Sejak beberapa bulan membuat account facebook, aku menjadikan itu sebagai quotes di dalam profilku. Hidup ini memang penuh misteri. Allah menciptakan ini semua sebagai bentuk qadha dan qadar nya, kita harus menjalani dengan usaha dan menerima hasil yang kita lakukan. Bila tidak sesuai, kita harus koreksi dan menjalankan prinsip ikhlas.

Berkaitan dengan misteri hidup. Hal yang sama pun aku alami saat diriku bertemu dengan wanita itu. Aku masih tak menyangka bisa menemukan wanita yang menurutku sholehah. Kami yang dulu nya hanya teman bahkan menurutnya aku seorang stranger bagi dia, sekarang justru kami menjalin cinta. Aneh tapi nyata dan aku sangat bersyukur. Ingin mengutip quotes diatas, apabila aku umpamakan diriku dengan wanita itu, maka

"Yesterday, we were a friend (or a stranger maybe). Today is Lover. Future, I am hoping we'll become a parents for happy family. Amin."

Teringat saat hari dimana aku mengutarakan perasaan pada wanita itu. Kami berangkat dengan tujuan "chasing sunset". Saat ini, aku yang berada jauh dari wanita itu kembali melakukan misi pengejaran, "chasing 2011". Iya, itu tahun dimana aku harus lulus dan sudah mengumpukan modal untuk mewujudkan masa depanku dengan wanita itu. Termasuk menjadi imam bagi nya.

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

08 November 2009

SEANDAINYA AKU BISA BERTANYA KEPADA ALLAH SWT


Hari ini, Jumat 6 November 2009. Aku melakukan aktivitas harian ku seperti biasa. Namun hari ini, terasa beda karena aku harus menjalani kelas tambahan. Malam ini, aku pun kembali ke kamar. Seperti biasa, aktivitas rutin kala malam setelah tiba adalah mengganti pakaian dinas alias tidur diiringi dengan menyalakan laptop yang menghubungkan ku akan dunia maya dan kerabat di benua yang letaknya jauh dari tempatku.

Komputer menyala, YM terhubung dan mulai memperhatikan status dari teman-temanku. Kadang, status YM temanku, sedikit banyak menggambarkan mood orang tersebut atau keadaan kota Jakarta. Keadan kota itu yang lebih aku ingin tahu sebelum membuka situs detik.com atau kompas.com.

Dari beberapa nama temanku, ada satu status YM yang cukup menggelitik. Datang dari Gupta Gautama. Dia ini teman dekatku waktu jaman SMP. Sering bercanda barang dan kita mendapat julukan “super-sub” dalam tim sepakbola kami, waktu itu. Temanku ini memasang status YM dengan tulisan “Letter To God”. Lantas aku menggelengkan kepalaku, aneh-aneh saja kelakuan temanku itu. Berdoa dong abis solat. Bisikku dalam hati.

Tapi keanehan itu cukup membuatku berpikir. Sejak pindah ke Perancis, otak dan hatiku menyimpan banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan untuk Sang Pencipta. Dari kehidupan bebas negara ini sampai hal kecil lainnya. Aku pun berpikiran, seandainya aku bisa mengirmkan surat kepada Allah. Ah tidak, jangan surat. Karena saat ini, media FB dan YM menjadi jurus ampuh untuk berkomunikasi dengan sesama hambaNya.

Apapun itu, di benakku terbesit banyak pertanyaan yang ingin Tuhanku jawab saat ini. Namun setelah ku berpikir ulang, nampaknya semua pertanyaan itu menjadi tak penting, apalagi yang berhubungan dengan negara ini. Akhirnya, aku justru menemukan sebuah pertanyaan yang sangat ingin dan cukup membuatku penasaran. That question is

“Seandainya, detik ini Allah mencabut nyawaku, aku ingin mengetahui, seberapa besar takaran amal kebaikan dan keburukan. Apabila sudah tau, apakah itu akan membawaku ke surga apa neraka”

Yaa, simple tapi mempunyai arti besar untukku. Kehidupan ini hanya sekali. Aku merupakan hamba Allah yang takut akan neraka dan aku yakin kalau aku masih belum pantas untuk masuk surga. Seandainya pertanyaanku itu bisa dijawab.

Walaupun pertanyaan itu rasanya hanya khayalan, lebih baik aku mengumpulkan modal untuk menuju surga nya Allah. Aku merasa disini, agak sulit mengumpulkan amalan dan bahkan peluang berbuat dosa justru lebih besar, contoh kecil adalah zina mata. Tidak seperti negara asalku, yang sangat mudah untuk mencari amal baik. Aku merasa, sholat berjamaah adalah cara terbaik disini, namun waktu kuliah yang berubah seiring pergesaran waktu, hal itu hanya bisa ku kejar di weekend. Maafkan aku Ya Allah atas pikiranku malam ini. Mudahkan ku untuk mencari RidhoMu. Aku akan berusaha, dan aku mengharapkan ridhoMu.

05 November 2009

2 bulan

Sudah dua bulan aku berada dikota baru ku ini.
Sudah dua bulan pula aku menjalani profesi rangkap, pelajar dan kata beberapa orang sih latihan jadi bapak rumah tangga.
Sudah dua bulan, aku terpisah jarak ruang dan waktu dari keluarga, pacar dan teman-temanku
Sudah dua bulan aku hidup dalam kesendirian, kemandirian dan kesepian kala malam.
Sudah dua bulan juga aku merasakan perbedaan mahasiswa S2 yang terbebani dengan banyak tugas dibanding S1 yang masih bisa merasakan hura-hura
Eh mungkin salah. Seharusnya aku mengganti kata "sudah" dengan "baru". Iya, karena baru 2 bulan. Dan kemungkinan akan ada maksimal 16 bulan lagi atau 8 bulan lagi aku seperti ini.
Bismillahirrahmanirrohim

02 November 2009

Istri Umar bin Khatab pun cerewet

Ada artikel bagus, silahkan membaca. Semoga berguna.

Istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun sama.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umarbin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengankecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-lakiitu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar.Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4.

Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yangsudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.

4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.
5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya

*diambil FTJAI yang diolah dari Cahaya Iman, edisi kamis, 30 November 2006-11-30, Indosiar pukul 04:30*

hufff

And the morning is for you
And the air is free
And the birds sing for you
And your positivity
(Suede - Positivity)

Keluar kamar pagi hari, secara tak sadar diri ini mendendangkan lagu tersebut. I dont know why, It happened suddenly. Mungkin kalo dipikir-pikir dari kejadian malam hari, diri ini sempat goyah akan nama nya hidup menjadi anak rantau. Jauh dari kehidupan nyaman di Jakarta. Mungkin bisa dibilang homesick tp belum separah itu juga sih.

Otak terus berputar namun tetap tidak menemukan jawaban. Padahal diri ini senantiasa mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta. Apakah kurang kuantitas nya?

Whatever it takes, I must sure about what I am doin' here. It must be greatest thing for my future. I hope so.

perpustakaan pagi galau, 021109 09.37

24 October 2009

YANG MENCINTAIMU, TIDAK AKAN MENGAJAKMU KE NERAKA


Yang Mencintaimu, Wajib Mencintai Tuhannya
Yang Mencintaimu, Pasti Akan Mencintai Dirinya Sendiri Juga
Yang Mencintaimu, Harus Menyayangi Keluarganya

Bagaimana Dia Mau Mencintaimu, Bila Dia Tidak Mengetahui Siapa Tuhannya
Bagaimana Dia Mau Mencintaimu, Bila Dia Seorang Peminum
Bagaimana Dia Mau Mencintaimu, Bila Terhadap Ibunya Saja Suka Berkata “argh”


*pengembangan obrolan via YM dengan seorang yang berhobby menulis

22 October 2009

cambuk bagi si perantau

Malam ini, sebelum ku mulai membaca materi kuliah, kumainkan jariku diatas keyboard laptop dan menyelami beberapa situs, salah satunya Facebook. Aku menemukan status yang bagus dari seorang kawan ta'lim ku di Jakarta. Berikut tulisannya.
"Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang".
(Imam Syafii)
Seketika aku langsung teringat Merantau, film terakhir yang aku tonton di Jakarta bersama teman-teman sepermainanku. Pada intro film tersebut terdapat kalimat,
"Dalam tradisi Minangkabau, setiap anak laki-laki akan pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka dan berjalan mencari pengalaman hidup. Pengalaman hidup yang membuat nya menjadi lelaki sejati'.
(Merantau Movie)
Dua quotes itu terasa menusuk jantungku. Haru dan semangat bercampur dalam benakku. Aku merasa haru karena aku sedang mengalami kehidupan rantau dan pernah berada pada lowest point di petualangan baru ku. Namun kalimat "Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang" menaikkan semangatku. Begitu juga dengan kalimat "Pengalaman hidup yang membuatnya menjadi lelaki sejati", seakan menjadi cambuk bagiku bahwa seorang pria harus kokoh dan kuat menghadapi tempaan hidup. Karena didepan masih akan ada cobaan yang jauh lebih berat terlebih setelah berkeluarga. Bangkit ki, bangkit !!