Showing posts with label body. Show all posts
Showing posts with label body. Show all posts
02 March 2010
BANYAK YANG MERASA BISA, TAPI SEDIKIT YANG BISA MERASA
Akhir pekan kemarin, saya menghabiskan waktu bersama rekan-rekan PPI – Rennes berkunjung ke Lanion, sebuah desa di wilayah barat Perancis. Perjalanan ini terasa unik untuk saya, karena tercipta banyak sekali perbincangan yang tak pernah dirancang sebelumnya. Mulai dari hal yang tidak penting menuju hal yang makin tidak penting (hehe). Banyak terjadi pertukaran pikiran. Hal tersebut saya rasa karena saya adalah orang yang termuda kedua diantara yang ada.
Pembicaraan pun beragam, dari hal mengenai agama, nostalgia PPI Rennes masa lalu hingga politik. Hal yang menggelitik untuk saya ketika pembicaraan beranjak ke persoalan politik. Para sesepuh berpendapat, Indonesia bisa berada dalam kondisi baik bila generasi pemimpin sekarang dipangkas alias dibumihanguskan. Karena mereka-mereka itu yang nanti nya secara tidak langsung mengajarkan dan mewariskan permasalahan kepada generasi muda seperti saya.
Terkadang, permasalahan kompleks seperti korupsi dan hal-hal yang terkait dengan negara membuat prihatin dan ada perasaan seperti salah pilih. Komentar saya saat itu, mereka itu wakil rakyat, wakil suara saya dan teman-teman tapi apa mereka bisa merasakan apa yang kita rasakan. Dimata saya, semua orang yang mengaku membela rakyat itu semua tergolong orang yang merasa bisa namun mereka tidak bisa merasa. Iya, saya yakin mereka pasti seolah-olah merasa bisa memperbaiki negara yang kondisi nya compang-camping, namun mereka tidak bisa merasakan kondisi rakyat terutama yang kesulitan untuk hidup sehari-hari.
Pembicaraan pun berlanjut. Namun kejadian yang terjadi siang hari ini waktu Indonesia, kembali mengingatkan saya akan pembicaraan akhir pekan. Gerombolan pria bersetelan jas terlihat mirip dengan pemuda putih abu-abu yang sibuk menunjukkan kehebatannya kepada sesama pelajar namun beda sekolah. Sungguh ironis.
Perihal banyak yang merasa bisa tapi sedikit yang bisa merasa itu sepertinya tidak hanya dalam urusan para petinggi negara itu, namun bisa diartikan untuk banyak hal. Terkadang, kesombongan, rasa angkuh dan kurang nya bersyukur membuat orang berada pada posisi tersebut. Tidak dipungkiri, saya pun dapat dikatakan beberapa kali terperangkap dalam kalimat tersebut.
Yah apapun itu, marilah merubah stigma tersebut menjadi banyak yang merasa bisa (karena yakin akan kemampuannya) dan harus bisa merasa (keadaan lingkungan sekitar).
Memang, perbincangan dengan rekan yang lebih tua akan membuat kita bisa berpikir dari sisi lain.
Pembicaraan pun beragam, dari hal mengenai agama, nostalgia PPI Rennes masa lalu hingga politik. Hal yang menggelitik untuk saya ketika pembicaraan beranjak ke persoalan politik. Para sesepuh berpendapat, Indonesia bisa berada dalam kondisi baik bila generasi pemimpin sekarang dipangkas alias dibumihanguskan. Karena mereka-mereka itu yang nanti nya secara tidak langsung mengajarkan dan mewariskan permasalahan kepada generasi muda seperti saya.
Terkadang, permasalahan kompleks seperti korupsi dan hal-hal yang terkait dengan negara membuat prihatin dan ada perasaan seperti salah pilih. Komentar saya saat itu, mereka itu wakil rakyat, wakil suara saya dan teman-teman tapi apa mereka bisa merasakan apa yang kita rasakan. Dimata saya, semua orang yang mengaku membela rakyat itu semua tergolong orang yang merasa bisa namun mereka tidak bisa merasa. Iya, saya yakin mereka pasti seolah-olah merasa bisa memperbaiki negara yang kondisi nya compang-camping, namun mereka tidak bisa merasakan kondisi rakyat terutama yang kesulitan untuk hidup sehari-hari.
Pembicaraan pun berlanjut. Namun kejadian yang terjadi siang hari ini waktu Indonesia, kembali mengingatkan saya akan pembicaraan akhir pekan. Gerombolan pria bersetelan jas terlihat mirip dengan pemuda putih abu-abu yang sibuk menunjukkan kehebatannya kepada sesama pelajar namun beda sekolah. Sungguh ironis.
Perihal banyak yang merasa bisa tapi sedikit yang bisa merasa itu sepertinya tidak hanya dalam urusan para petinggi negara itu, namun bisa diartikan untuk banyak hal. Terkadang, kesombongan, rasa angkuh dan kurang nya bersyukur membuat orang berada pada posisi tersebut. Tidak dipungkiri, saya pun dapat dikatakan beberapa kali terperangkap dalam kalimat tersebut.
Yah apapun itu, marilah merubah stigma tersebut menjadi banyak yang merasa bisa (karena yakin akan kemampuannya) dan harus bisa merasa (keadaan lingkungan sekitar).
Memang, perbincangan dengan rekan yang lebih tua akan membuat kita bisa berpikir dari sisi lain.
04 February 2010
.
Dear,
Lama juga gw ga nulis beginian. Rasanya aneh bwt seorang cowo, jadi inget masa-masa sd. Gw selalu menganggap hidup ini bagai rollercoaster, persis seperti lagu nya Ronan Keating. Bagi gw, hidup ini kadang di atas dan lalu dalam sekejap dibawah. Penuh dengan kejutan dan kadang membuat hati ini deg-degan. To be honest, Im not a type of person that like a surprise. Ibarat intel, gw pasti selalu berpikiran dan suka menganalisis sesuatu yang akan terjadi dalam hidup dr lingkungan sekitar gw. Sehingga nantinya gw ga akan segitu kagetnya melihat dan merasakan sesuatu yang terjadi. Apa yang gw lakuin dan bagaimana impact nya. Walau gw tau bgt, God works in a misterious way, dimana gw ga akan pernah tau dr mana gw akan menuai hasil dari perbuatan gw.
Tapi nyatanya, ga semua bakat FBI yang gw punya berfungsi dengan baik. Gw bener2 terjebak dalam permainan rollercoaster yang tidak memiliki jalur datar sama sekali. Coba bayangin, jika rollercoaster tersebut mulai diberangkatkan dari posisi dan dibuat menanjak. Setelah melihat ketinggian dan terlena, dalam sejenak kereta tersebut langsung turun bebas tiba2.
That’s life. Gw cuma bisa menjadi pilot bwt kehidupan gw sendiri. Terkadang semua saran yang diberikan terasa klise, tapi emang hal tersebut yang harus dijalani.
ANOTHER PART OF MY COUNTRY


Last weekend, I went to another part of my city. It called by BURZT. One thing that makes me amaze is, I found a travel agent that offered a destination to Indonesia (lets clap your hand). I post that thing also in Kaskus, the largest Indonesian Community. Check this link, and feel free to leave a comment in my thread with the tittle “[just share] Indonesia menjadi tujuan wisata travel agent di Eropa”.
I was wondering, why my government doesnt care about this small thing. If many foreign tourist go to my country, of course it will increase our country’s income. But sometime, I think that Indonesian people so egoistic and only care with the thing that related with their own life.
No offense but let we do a self-reflection now.
02 January 2010
my trip's partner. Ive just finished my short holiday but I dont think its such a good enough trip. I went to Berlin and Hamburg, two big city in Germany. I think, it would be great trip if I went with my special one.
Btw, mengenai perjalanan liburan kemarin, aku merasakan “tua dijalan” karena menghabiskan 12 jam perjalanan dari Paris ke Berlin dan 12 jam juga dari arah sebaliknya. Oleh sebab itu, perjalanan panjang dan memakan waktu tersebut tidak akan kita rasakan bila mempunyai partner. Daaaan 4 (empat) partner saya selama perjalanan kemarin adalah:
Btw, mengenai perjalanan liburan kemarin, aku merasakan “tua dijalan” karena menghabiskan 12 jam perjalanan dari Paris ke Berlin dan 12 jam juga dari arah sebaliknya. Oleh sebab itu, perjalanan panjang dan memakan waktu tersebut tidak akan kita rasakan bila mempunyai partner. Daaaan 4 (empat) partner saya selama perjalanan kemarin adalah:
1. My BlackBerry
Even this is not the newest one, but I still gratitude having BB, a smartphone yang sejak saya pindah ke Perancis berubah menjadi stupidphone gara-gara sering muncul jam pasir (baca nge-hang). Namun wal au begitu, aku bisa menikmati beberapa fitur penting dari Curve-ku sejak wanita itu memiliki BB. Selama perjalanan, aku merasakan keuntungan dengan adanya BB, bisa mengusir rasa bosan dengan chat bersama anggota keluarga dan teman yang berada jauh. Dan pastinya bisa tetap berkomunikasi dengan wanita itu.
Even this is not the newest one, but I still gratitude having BB, a smartphone yang sejak saya pindah ke Perancis berubah menjadi stupidphone gara-gara sering muncul jam pasir (baca nge-hang). Namun wal au begitu, aku bisa menikmati beberapa fitur penting dari Curve-ku sejak wanita itu memiliki BB. Selama perjalanan, aku merasakan keuntungan dengan adanya BB, bisa mengusir rasa bosan dengan chat bersama anggota keluarga dan teman yang berada jauh. Dan pastinya bisa tetap berkomunikasi dengan wanita itu.
2. Tas punggung Eiger
Well actually this is not mine. Aku pinjam tas ini dari seorang teman dari Indonesia yang tinggal sekota dengan ku saat ini. Alasan menggunakan backpack adalah agar tidak perlu repot menggeret tas atau menjinjing. Namun ternyata, sisi buruknya adalah, setelah perjalanan menuju pulang, isi tas punggung tersebut bertambah dan menjadi beban sehingga tidak selincah ketika aku berangkat.
Well actually this is not mine. Aku pinjam tas ini dari seorang teman dari Indonesia yang tinggal sekota dengan ku saat ini. Alasan menggunakan backpack adalah agar tidak perlu repot menggeret tas atau menjinjing. Namun ternyata, sisi buruknya adalah, setelah perjalanan menuju pulang, isi tas punggung tersebut bertambah dan menjadi beban sehingga tidak selincah ketika aku berangkat.
3. Buku bacaan karangan Amru Khalid.
Sejak aku mengikuti sebuah training SDM, aku sangat tertarik membaca buku karangan dari Amru Khalid. He such a good writer. Mungkin karena dia menuntut ilmu di Mesir, sehingga pengetahuan agama nya cukup luas. Walau perjalanan liburan kemarin cukup panjang, aku belum juga menyelesaikan membaca buku karangannya yang berjudul “Wahai Saudaraku, Bersabarlah!”. Tapi setidaknya, aku bisa mencicil.
Sejak aku mengikuti sebuah training SDM, aku sangat tertarik membaca buku karangan dari Amru Khalid. He such a good writer. Mungkin karena dia menuntut ilmu di Mesir, sehingga pengetahuan agama nya cukup luas. Walau perjalanan liburan kemarin cukup panjang, aku belum juga menyelesaikan membaca buku karangannya yang berjudul “Wahai Saudaraku, Bersabarlah!”. Tapi setidaknya, aku bisa mencicil.
4. Ipod Nano 8 GB
Ipod yang berwarna hijau ini benar-benar melengkapi liburan aku. Diisi dengan playlist kesukaanku, membuat aku cukup terhibur menghadapi perjalanan panjang, mendengar jeritan anak kecil menangis di kereta dan kebosanan menunggu datangnya kereta.
Ipod yang berwarna hijau ini benar-benar melengkapi liburan aku. Diisi dengan playlist kesukaanku, membuat aku cukup terhibur menghadapi perjalanan panjang, mendengar jeritan anak kecil menangis di kereta dan kebosanan menunggu datangnya kereta.
22 December 2009
I WANT THIS

Well actually bukan kamera nya, tapi belajar bagaimana menggunakan kamera yang lebih dikenal dengan nama SLR (single-lens-reflex). Entah aku korban perkembangan jaman atau apalah namanya, namun saat ini aku merasakan sebuah kebutuhan untuk belajar menggunakan itu. Mungkin setelah aku pandai mengoperasikannya, target selanjutnya adalah menabung untuk membeli benda itu dengan uang hasil jerih payah ku sendiri.
Kenapa tiba-tiba aku ingin belajar menggunakan kamera seperti itu? Simpel saja, menurut sepupu dan temanku yang bergerak di industri majalah, setiap artikel yang ada di dalam majalah pasti menonjolkan isi tulisan dan gambar. Untuk segi gambar, mereka biasanya memberi syarat resolusi dalma bentuk JPG minimal 3 MB. Sedangkan kamera aku saat ini, untuk bisa mencapai diangak 3 MB saja harus dengan susah payah. Oleh sebab itu, aku ingin kamera itu bisa produktif untuk membantu menebalkan isi dompetku.
Not really essential tapi aku ingin mengerti menggunakan produk tersebut.
Kenapa tiba-tiba aku ingin belajar menggunakan kamera seperti itu? Simpel saja, menurut sepupu dan temanku yang bergerak di industri majalah, setiap artikel yang ada di dalam majalah pasti menonjolkan isi tulisan dan gambar. Untuk segi gambar, mereka biasanya memberi syarat resolusi dalma bentuk JPG minimal 3 MB. Sedangkan kamera aku saat ini, untuk bisa mencapai diangak 3 MB saja harus dengan susah payah. Oleh sebab itu, aku ingin kamera itu bisa produktif untuk membantu menebalkan isi dompetku.
Not really essential tapi aku ingin mengerti menggunakan produk tersebut.
15 December 2009
REVIEW AND RESOLUTION
Tidak terasa tahun baru semakin dekat.
Mari berkaca sejenak. Sudah bertambah berapakah kerutan di wajah ini?
Sudah berapa juga jerawat yang muncul dan hilang?
Sudah berapa pula helai rambut yang tumbuh dan di pangkas?
Itu yang tampak dari fisik, lalu dari dalam diri.
Sudah berapa banyak perbuatan baik yang kita buat?
Dan berapa banyak juga maksiat yang sudah kita lakukan?
Mari kita membersihkan diri
Kita mulai dengan cara sederhana, menjelang tahun baru hijriyah dan masehi berikutnya.
Mari membuat RESOLUSI IBADAH dan RESOLUSI SIKAP untuk tahun depan.
Sederhana, bisa dengan mengurangi maksiat yang rutin kita lakukan dengan cara menambah ibadah sunnah.
Bisa dengan mengaji atau menambah jumlah shalat dhuha menjadi empat kali tiap minggu.
Bisa mengatur waktu lebih bijaksana dalam hal belajar.
Dan bisa pula lebih pandai dalam mengatur keuangan dengan menggunakan hal yang seperlunya.
Mari kita beri kesempatan untuk malaikat sibuk mencatat perbuatan baik kita di tahun depan.
Sampai ketemu di tahun depan, Insya Allah
Mari berkaca sejenak. Sudah bertambah berapakah kerutan di wajah ini?
Sudah berapa juga jerawat yang muncul dan hilang?
Sudah berapa pula helai rambut yang tumbuh dan di pangkas?
Itu yang tampak dari fisik, lalu dari dalam diri.
Sudah berapa banyak perbuatan baik yang kita buat?
Dan berapa banyak juga maksiat yang sudah kita lakukan?
Mari kita membersihkan diri
Kita mulai dengan cara sederhana, menjelang tahun baru hijriyah dan masehi berikutnya.
Mari membuat RESOLUSI IBADAH dan RESOLUSI SIKAP untuk tahun depan.
Sederhana, bisa dengan mengurangi maksiat yang rutin kita lakukan dengan cara menambah ibadah sunnah.
Bisa dengan mengaji atau menambah jumlah shalat dhuha menjadi empat kali tiap minggu.
Bisa mengatur waktu lebih bijaksana dalam hal belajar.
Dan bisa pula lebih pandai dalam mengatur keuangan dengan menggunakan hal yang seperlunya.
Mari kita beri kesempatan untuk malaikat sibuk mencatat perbuatan baik kita di tahun depan.
Sampai ketemu di tahun depan, Insya Allah
"SANG PEMIMPI" DALAM MIMPI

Ooooooh I envy with Indonesian people. Sepertinya aku akan mematikan twitter terhitung tanggal 17 Desember 2009, tanggal dimana film itu akan tayang perdana di bioskop. Hampir dipastikan, pada tangal tersebut akan banyak temanku yang mengupdate status setelah menonton film itu. I hate Twitter. Aku bisa dibilang mengikuti rangkaian novel tersebut dan bahkan menonton prekuel film itu, Laskar Pelangi sebanyak dua kali di bioskop. Yang pertama saat hari pertama film itu keluar bersama teman dan yang keduanya bersama sepupu-sepupu saat hari lebaran.
Dan sekarang aku harus melupakan, melewatkan dan hanya terdiam saja. Kenapa film itu harus keluar sekarang. I ENVY YOU.
13 December 2009
WELCOMING (not a real) HOLIDAY
Alhamdulillah kemarin merupakan hari terakhir ujian akhir di semester 1. Baru sehari menikmati libur, rasanya cukup kebingungan juga dengan memikirkan aktifitas yang ingin dilakukan.
Jalan-jalan? Pasti nya. Hal itu sudah dalam pikiran saya sejak sebulan yang lalu. Bahkan, saya memiliki 3 (tiga) rencana untuk mengisi liburan winter mendatang. Pertama, Swiss dan Italia. Untuk liburan ke kedua negara tersebut, merupakan liburan yang menurutku almost perfect, karena salah satu tujuan nya adalah ke kota yang aku ingin sekali lihat, Venice. Namun ada beberapa constraint, yakni budget. Karena aku masih patungan dengan uang orangtua ku, berarti tandanya harus menghemat setelah pulang dari liburan. Dan rasanya aku tidak bisa. Hambatan lainnya adalah, tempat tinggal. Karena aku akan menumpang di tempat teman nya kenalan teman. Ibarat friendster, itu akan menjadi third degree dalam friendlist aku. Dan titik puncak akhirnya aku memutuskan mencoret plan ini adalah, karena aku pergi bersama dua teman perempuan yang sesama pelajar dari Rennes. Faktor keinginan menjaga perasaan wanita dalam hidupku saat ini berperan besar.
Pilihan kedua adalah Spanyol. Sebetulnya ini sangat menarik juga. Terlebih aku ingin sekali melihat Granada sebagai tempat sejarah kebudayaan Islam dan Barcelona yang bagiku terkenal karena sepakbola nya. Tapi, temanku ternyata menginginkan pergi ke kota lain Namun karena plan ini terlihat mengambang, akhirnya aku mencari alternatif lain. Dan ternyata, ketika aku mengetik tulisan ini, plan tersebut berjalan dengan budget yang nyatanya tidak beda jauh dengan pilihan ketiga sekaligus tujuan liburanku.
Daaaaannn,, pilihanku jatuh ke Jerman. Saat akhirnya aku memutuskan unuk ke Jerman, terbesit khayalan seandainya wanitaku saat ini, masih melaksanakan magang ada di negara ini. Akan sangat menarik. Namun khayalan berhenti bahwa akan muncul hal-hal aneh nantinya. Kenapa Jerman? Karena di kota Berlin, aku memiliki seorang teman yang sudah aku kenal di Jakarta. Dan dia pun menawarkan untuk liburan bersama. Faktor lain keputusanku ini adalah, orangtua dan wanitaku telah mengenal “si anak Berlin” tersebut. Jadi aku rasa, mereka tidak perlu mengkhawatirkan bahwa aku akan melakukan hal aneh nantinya. Dia pun akan mengajakku ke Hamburg selama dua hari rencananya dan kita akan menghabiskan new years eve di Paris. Agak berbanding terbalik dengan perayaan pergantian tahun ku dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Tapi apa boleh buat lah.
Sebelum melakukan perjalanan keluar negara Perancis yang masih dalam lingkup Schengen, setiap pendatang non-Euro harus membuat carte de sejour. Itu semacam KITAS (kartu identitas sementara) bila di Indonesia. Ternyata, membuat KITAS di Perancis itu free tapi not totally free karena saya harus membeli sebuah perangko yang nantinya akan ditempelkan di pasportnya. Dan bagi saya, perangko itu adalah perangko termahal yang pernah saya temukan. Can you imagine, it takes 55 euro? Setara dengan ipod shuffle ato 61 persen dari harga sepatu yang aku incar. Rasanya mau teriak dan kritik ke penjualnya, perangko macam apakah ini.
Tunggu saja artikel aku selanjutnya. Terlebih lagi, sepupuku yang bekerja di Panorama memintaku menulis tentang sebuah kota di Eropa, namun kenapa rasanya jari ini sulit sekali menari. Dan aku tak tahu, apakah aku bisa melewati liburan ini dengan senyuman tulus mengingat aku masih harus menunggu hasil uas kemarin dan kondisi wanitaku di Jakarta yang sedang kurang baik dikarenakan ibunya di rawat di RS. Get well soon Tante.
Cezembre 318, 13.12.2009, 22.39
Jalan-jalan? Pasti nya. Hal itu sudah dalam pikiran saya sejak sebulan yang lalu. Bahkan, saya memiliki 3 (tiga) rencana untuk mengisi liburan winter mendatang. Pertama, Swiss dan Italia. Untuk liburan ke kedua negara tersebut, merupakan liburan yang menurutku almost perfect, karena salah satu tujuan nya adalah ke kota yang aku ingin sekali lihat, Venice. Namun ada beberapa constraint, yakni budget. Karena aku masih patungan dengan uang orangtua ku, berarti tandanya harus menghemat setelah pulang dari liburan. Dan rasanya aku tidak bisa. Hambatan lainnya adalah, tempat tinggal. Karena aku akan menumpang di tempat teman nya kenalan teman. Ibarat friendster, itu akan menjadi third degree dalam friendlist aku. Dan titik puncak akhirnya aku memutuskan mencoret plan ini adalah, karena aku pergi bersama dua teman perempuan yang sesama pelajar dari Rennes. Faktor keinginan menjaga perasaan wanita dalam hidupku saat ini berperan besar.
Pilihan kedua adalah Spanyol. Sebetulnya ini sangat menarik juga. Terlebih aku ingin sekali melihat Granada sebagai tempat sejarah kebudayaan Islam dan Barcelona yang bagiku terkenal karena sepakbola nya. Tapi, temanku ternyata menginginkan pergi ke kota lain Namun karena plan ini terlihat mengambang, akhirnya aku mencari alternatif lain. Dan ternyata, ketika aku mengetik tulisan ini, plan tersebut berjalan dengan budget yang nyatanya tidak beda jauh dengan pilihan ketiga sekaligus tujuan liburanku.
Daaaaannn,, pilihanku jatuh ke Jerman. Saat akhirnya aku memutuskan unuk ke Jerman, terbesit khayalan seandainya wanitaku saat ini, masih melaksanakan magang ada di negara ini. Akan sangat menarik. Namun khayalan berhenti bahwa akan muncul hal-hal aneh nantinya. Kenapa Jerman? Karena di kota Berlin, aku memiliki seorang teman yang sudah aku kenal di Jakarta. Dan dia pun menawarkan untuk liburan bersama. Faktor lain keputusanku ini adalah, orangtua dan wanitaku telah mengenal “si anak Berlin” tersebut. Jadi aku rasa, mereka tidak perlu mengkhawatirkan bahwa aku akan melakukan hal aneh nantinya. Dia pun akan mengajakku ke Hamburg selama dua hari rencananya dan kita akan menghabiskan new years eve di Paris. Agak berbanding terbalik dengan perayaan pergantian tahun ku dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Tapi apa boleh buat lah.
Sebelum melakukan perjalanan keluar negara Perancis yang masih dalam lingkup Schengen, setiap pendatang non-Euro harus membuat carte de sejour. Itu semacam KITAS (kartu identitas sementara) bila di Indonesia. Ternyata, membuat KITAS di Perancis itu free tapi not totally free karena saya harus membeli sebuah perangko yang nantinya akan ditempelkan di pasportnya. Dan bagi saya, perangko itu adalah perangko termahal yang pernah saya temukan. Can you imagine, it takes 55 euro? Setara dengan ipod shuffle ato 61 persen dari harga sepatu yang aku incar. Rasanya mau teriak dan kritik ke penjualnya, perangko macam apakah ini.
Tunggu saja artikel aku selanjutnya. Terlebih lagi, sepupuku yang bekerja di Panorama memintaku menulis tentang sebuah kota di Eropa, namun kenapa rasanya jari ini sulit sekali menari. Dan aku tak tahu, apakah aku bisa melewati liburan ini dengan senyuman tulus mengingat aku masih harus menunggu hasil uas kemarin dan kondisi wanitaku di Jakarta yang sedang kurang baik dikarenakan ibunya di rawat di RS. Get well soon Tante.
Cezembre 318, 13.12.2009, 22.39
26 November 2009
NOVEMBER RAIN
Begitulah. akhir-akhir ini, tempat tinggal ku kerap di guyur hujan. Sama hal nya dengan Jakarta, yang berita itu aku dapat dari laporan Ibuku dan wanita yang pernah ku ceritakan di tulisanku sebelumnya. Hujan merupakan tetesan air dari langit. Bila berbicara mengenai tetesan air yang ada dalam diri manusia, hal itu identik dengan air mata. Bentuknya pun bisa berupa kebahagian maupun kesedihan.
Aku memang bukan penggemar Guns N Roses, si penyanyi lagu November Rain. Dari band itu, aku hanya mengetahui mengenai Slash dan Sweet Child of Mine. Tapi entah kenapa, lagu itu bisa menjadi soundtrack hidupku bulan ini.
Bulan ini sedang merasa jauh dari Sang Pencipta, mungkin karena minimnya aktifitas keagaaman disini ditambah pula peluang dosa datang sangat besar. Aku tidak bisa menyalahkan keadaan juga, dan aku pun sudah berusaha menambah amalan aku. Tapi entah, perasaan itu masih menjadi sahabat akrab.
Tetesan lain nya adalah urusan kuliah. Entah, semakin aku kejar nilai bagus dalam aktifitas kuliahku, semakin susah diraih. Aku akhirnya sampai pada titik, learning experience is so much important than highest grade. Iya, proses belajar dan bertarung di negeri orang menjadi sesuatu pengalaman tapi bukan berarti aku mengesampingkan urusan kuliah ku untuk lulus.
Hal lain yang berhubungan dengan kesedihan adalah, ketika ayahku datang menjenguk dan dia harus kembali ke Daarmstadt. Huff. Dont wanna tell much about this. Sulit untuk menulis panjang-panjang.
Air mata kebahagian yang aku nikmati bulan ini adalah, aku terharu bisa melalui LDR dengan wanita itu. Aku, pria yang merasa bodoh dalam urusan cinta akhir nya pada bulan ini mencapai umur 3 bulan dalam hubungan ku dengan wanita itu. Alhamdulillah belum menemukan masalah, dan semoga Allah memudahkan langkahku kedepannya.
Tiga banding satu namun aku harus bangkit. Bismillah.
Aku memang bukan penggemar Guns N Roses, si penyanyi lagu November Rain. Dari band itu, aku hanya mengetahui mengenai Slash dan Sweet Child of Mine. Tapi entah kenapa, lagu itu bisa menjadi soundtrack hidupku bulan ini.
Bulan ini sedang merasa jauh dari Sang Pencipta, mungkin karena minimnya aktifitas keagaaman disini ditambah pula peluang dosa datang sangat besar. Aku tidak bisa menyalahkan keadaan juga, dan aku pun sudah berusaha menambah amalan aku. Tapi entah, perasaan itu masih menjadi sahabat akrab.
Tetesan lain nya adalah urusan kuliah. Entah, semakin aku kejar nilai bagus dalam aktifitas kuliahku, semakin susah diraih. Aku akhirnya sampai pada titik, learning experience is so much important than highest grade. Iya, proses belajar dan bertarung di negeri orang menjadi sesuatu pengalaman tapi bukan berarti aku mengesampingkan urusan kuliah ku untuk lulus.
Hal lain yang berhubungan dengan kesedihan adalah, ketika ayahku datang menjenguk dan dia harus kembali ke Daarmstadt. Huff. Dont wanna tell much about this. Sulit untuk menulis panjang-panjang.
Air mata kebahagian yang aku nikmati bulan ini adalah, aku terharu bisa melalui LDR dengan wanita itu. Aku, pria yang merasa bodoh dalam urusan cinta akhir nya pada bulan ini mencapai umur 3 bulan dalam hubungan ku dengan wanita itu. Alhamdulillah belum menemukan masalah, dan semoga Allah memudahkan langkahku kedepannya.
Tiga banding satu namun aku harus bangkit. Bismillah.
18 November 2009
KUNJUNGAN SINGKAT SANG AYAH
Weekend kemarin ini benar-benar terasa beda untukku. Aku kedatangan tamu yang sangat spesial. Iya, ayahku datang ke Rennes, kota tempat tinggalku yang baru. Sebetulnya dia ada tugas di Darmstaadt, Jerman, namun weekend ini dia menyempatkan datang ke tempatku. Untuk menjengukku dan membawa beberapa barang titipan.
Tidak sekedar menjenguk, namun dia juga ingin tahu kampusku, membeli beberapa oleh-oleh dan juga melakukan inspeksi mendadak ke kamarku. Yang terakhir ini, karena aku terlalu banyak akan urusan kampus, membuat aku tidak punya banyak waktu untuk berbenah kamarku.
Just see my pict. Thanks a lot Dad for coming, See You at Our Country.
Tidak sekedar menjenguk, namun dia juga ingin tahu kampusku, membeli beberapa oleh-oleh dan juga melakukan inspeksi mendadak ke kamarku. Yang terakhir ini, karena aku terlalu banyak akan urusan kampus, membuat aku tidak punya banyak waktu untuk berbenah kamarku.
Just see my pict. Thanks a lot Dad for coming, See You at Our Country.
13 November 2009
KULIAH DISINI PUN BERAWAL DARI MIMPI
Beberapa hari yang lalu, aku baru saja mendapat message di facebook dari teman lama sewaktu aku masih kuliah di Binus. Bisa dibilang, pria ini adalah teman dekat waktu itu karena kami berasal dari kaum pribumi dan domisli nya pun berada di daerah selatan. Message itu menyiratkan kekagetan karena dia baru mengetahui bahwa aku sedang menuntut ilmu di Perancis. Karena message itu pun, aku memberi gambaran singkat.
Beberapa hari kemudian, aku dan teman baru ku yang berasal dari Indonesia disini membahas mengenai proses keberangkatan ke negeri Napoleon. Oleh sebab itu, aku mencoba untuk berbagi beberapa hal mengenai itu.
Keputusan aku untuk melanjutkan pendidikan S2 itu sudah dimulai dari Mei 2008. Tepat setelah pulang umroh akhirnya aku berani memutuskan untuk itu. Setelah sebelumnya, ayahku selalu mengajak berdiskusi tentang hal ini. Beliau menyarankan tiga negara yaitu, Belanda Jerman dan Perancis. Aku pun melakukan survey-survey hingga berakhir pada keinginan mengambil master di Swedia.
Dari lingkungan pertemanan aku di kampus, mereka belum mengetahui rencana ini. Sampai akhirnya, aku, Karim, Ifan dan Ira sedang makan bersama di Bebek Cabe Ijo di daerah Rawamangun. Mereka menyatakan keheranannya bahwa aku tidak ikut-ikutan heboh dalam mengirim CV untuk pekerjaan. Kejadian ini terjadi sebelum aku melaksanakan sidang skripsi, dan sudah lumrah terjadi di lingkungan kampus UI bahwa selalu mengirim CV sebelum lulus sehingga setelah wisuda dapat langsung bekerja.
Aku pun bercerita kepada mereka tentang rencana aku. Dari mulut mereka lah, aku yakin semua teman-teman kampusku baik dekat maupun tidak akhirnya mengetahui rencanaku ini. Tak lama setelah kejadian itu, aku kembali mendengar kabar bahwa, Mita, yang juga satu permainan dengan ku ingin melanjutkan studi di Eropa. Seolah mendapat teman satu tujuan, kami pun saling bertukar informasi dari pameran pendidikan hingga tempat kursus.
Kami pun memulai langkah perburuan. Rata-rata semua kampus di Eropa membutuhkan nilai TOEFL minimal 550. Jadilah langkah aku dimulai dengan mengambil kursus TOEFL. Karena saran dari sepupuku, aku memutuskan untuk bergabung dengan EEC atau English Education Centre. Tempat itu berkantor pusat di daerah Slipi namun aku mengambil kelas di kantor cabang di daerah Bintaro Sektor 7. Sekedar informasi tambahan, tempat TOEFL terbaik di Jakarta adalah Direct English di daerah Sudirman. Tempat itu menjadi pilihan teman kelas ku bernama Sasa yang sekarang akhirnya dia berada di Oxford, Inggris.
Perburuan juga dilakukan seperti mencari kampus lewat pameran di mulai dari benua Asia, Australia hingga Eropa. Biasanya dilakukan bulan Agustus hingga Desember. Tempatnya pun beragam dan biasanya di JCC, Hotel Four season ataupun Balai Kartini.
Beberapa bulan telah berlalu dan ternyata aku tidak mencapai targetku untuk kuliah di Swedia. Aku bertukar informasi dengan temanku yang bernama Wildan. Dia mempunyai niat untuk mengambil S2 di Perancis dan sedang dalam proses untuk ikut kursus bahasa. Ayahku pun sempat sebel karena dulu sempat menolak saran nya walau akhirnya dia mendukungku.
Kursus berjalan, proses pengiriman dokumen pun mengikuti perjalanan kursus ku. Proses itu dimulai dari pengiriman email as enquiry, lalu ternyata aku sangat beruntung, contact person dari kampus yang aku inginkan itu, mempunyai rekan di Jakarta. Aku pun menemui partner kampus tersebut yang bekerja untuk Edu Coach International bernama Madame Fida, begitulah aku memanggilnya.
Salah satu persyaratan yang harus aku lalui adalah interview dengan dekan di calon kampus aku. Guess what, itu dilakukan pada H-1 sebelum pemilu daaaannn saat Jamiroquai konser di Sentul. Aku pun melewatkan hal itu. Sebulan lebih setelah itu, akhirnya aku mendapat surat yang disebut Letter of Acceptance. Bahagia dan sedih bercampur seketika. Bahagia karena berhasil namun sedih karena menghitung hari saat-saat di Jakarta.
Setelah mendapat pengumuman, saatnya pengurusan visa. Prosesnya tidak sesulit yang saya kira. Bagian paling sulit adalah meminta surat jaminan atau surat pernyataan dari bank dan pembuatan travel insurance. Asuransi perjalanan rata-rata dibuat dengan tanggungan dalam bentuk dollar dan itu bisa berlaku untuk membuat visa ke Eropa.
Visa keluar, saatnya pergi.. Mungkin saya akan share detail nya di blog ya berbeda.. c u.
Beberapa hari kemudian, aku dan teman baru ku yang berasal dari Indonesia disini membahas mengenai proses keberangkatan ke negeri Napoleon. Oleh sebab itu, aku mencoba untuk berbagi beberapa hal mengenai itu.
Keputusan aku untuk melanjutkan pendidikan S2 itu sudah dimulai dari Mei 2008. Tepat setelah pulang umroh akhirnya aku berani memutuskan untuk itu. Setelah sebelumnya, ayahku selalu mengajak berdiskusi tentang hal ini. Beliau menyarankan tiga negara yaitu, Belanda Jerman dan Perancis. Aku pun melakukan survey-survey hingga berakhir pada keinginan mengambil master di Swedia.
Dari lingkungan pertemanan aku di kampus, mereka belum mengetahui rencana ini. Sampai akhirnya, aku, Karim, Ifan dan Ira sedang makan bersama di Bebek Cabe Ijo di daerah Rawamangun. Mereka menyatakan keheranannya bahwa aku tidak ikut-ikutan heboh dalam mengirim CV untuk pekerjaan. Kejadian ini terjadi sebelum aku melaksanakan sidang skripsi, dan sudah lumrah terjadi di lingkungan kampus UI bahwa selalu mengirim CV sebelum lulus sehingga setelah wisuda dapat langsung bekerja.
Aku pun bercerita kepada mereka tentang rencana aku. Dari mulut mereka lah, aku yakin semua teman-teman kampusku baik dekat maupun tidak akhirnya mengetahui rencanaku ini. Tak lama setelah kejadian itu, aku kembali mendengar kabar bahwa, Mita, yang juga satu permainan dengan ku ingin melanjutkan studi di Eropa. Seolah mendapat teman satu tujuan, kami pun saling bertukar informasi dari pameran pendidikan hingga tempat kursus.
Kami pun memulai langkah perburuan. Rata-rata semua kampus di Eropa membutuhkan nilai TOEFL minimal 550. Jadilah langkah aku dimulai dengan mengambil kursus TOEFL. Karena saran dari sepupuku, aku memutuskan untuk bergabung dengan EEC atau English Education Centre. Tempat itu berkantor pusat di daerah Slipi namun aku mengambil kelas di kantor cabang di daerah Bintaro Sektor 7. Sekedar informasi tambahan, tempat TOEFL terbaik di Jakarta adalah Direct English di daerah Sudirman. Tempat itu menjadi pilihan teman kelas ku bernama Sasa yang sekarang akhirnya dia berada di Oxford, Inggris.
Perburuan juga dilakukan seperti mencari kampus lewat pameran di mulai dari benua Asia, Australia hingga Eropa. Biasanya dilakukan bulan Agustus hingga Desember. Tempatnya pun beragam dan biasanya di JCC, Hotel Four season ataupun Balai Kartini.
Beberapa bulan telah berlalu dan ternyata aku tidak mencapai targetku untuk kuliah di Swedia. Aku bertukar informasi dengan temanku yang bernama Wildan. Dia mempunyai niat untuk mengambil S2 di Perancis dan sedang dalam proses untuk ikut kursus bahasa. Ayahku pun sempat sebel karena dulu sempat menolak saran nya walau akhirnya dia mendukungku.
Kursus berjalan, proses pengiriman dokumen pun mengikuti perjalanan kursus ku. Proses itu dimulai dari pengiriman email as enquiry, lalu ternyata aku sangat beruntung, contact person dari kampus yang aku inginkan itu, mempunyai rekan di Jakarta. Aku pun menemui partner kampus tersebut yang bekerja untuk Edu Coach International bernama Madame Fida, begitulah aku memanggilnya.
Salah satu persyaratan yang harus aku lalui adalah interview dengan dekan di calon kampus aku. Guess what, itu dilakukan pada H-1 sebelum pemilu daaaannn saat Jamiroquai konser di Sentul. Aku pun melewatkan hal itu. Sebulan lebih setelah itu, akhirnya aku mendapat surat yang disebut Letter of Acceptance. Bahagia dan sedih bercampur seketika. Bahagia karena berhasil namun sedih karena menghitung hari saat-saat di Jakarta.
Setelah mendapat pengumuman, saatnya pengurusan visa. Prosesnya tidak sesulit yang saya kira. Bagian paling sulit adalah meminta surat jaminan atau surat pernyataan dari bank dan pembuatan travel insurance. Asuransi perjalanan rata-rata dibuat dengan tanggungan dalam bentuk dollar dan itu bisa berlaku untuk membuat visa ke Eropa.
Visa keluar, saatnya pergi.. Mungkin saya akan share detail nya di blog ya berbeda.. c u.
07 November 2009
TWITTER is my enemy, BLOGSPOT as a new friend
Twitter, sebuah situs yang cukup mempunyai fenomena akhir2 ini. Dianggap sebagai microblog dimana pengguna dapat menuliskan komentar, curhat, opini atau kritik hanya dalam bentuk 140 karakter.
Twitter merupakan bentuk mini dari blogspot. Berbeda dengan Twitter, Blogspot tidak ada batasan karakter dan bisa berupa jadi diary bagi penggunanya. Menurut pengandaian saya,apabila blog itu saya asumsikan sebagai olahraga sepakbola, maka Twitter merupakan bentuk olahraga tersebut berupa futsal.
Aku dapat dikatakan sebagai pengguna ataupun konsumen dari kedua situs itu. Dan baru aku sadari setelah aku menjadi blogspot freak, bahwa aku aktif dalam dunia blog dan microblog berkat ajakan dari seorang wanita yang mewarnai hidupku akhir-akhir ini.
Aku bersyukur dengan adanya kedua situs itu, karena aku bisa mengutarakan perasaan ku disini yang bisa dibilang sedang krisis akan teman curhat atau orang yang mau mendengar cerita sehari-hariku. Termasuk saat ini, dimana aku bosan akan kuliah di hari Sabtu. Blogspot menjadi tempat pelarian isi hatiku selain yang Maha Kuasa yang selalu mendengar dan melihat hambaNya yang sedang berjuang di negeri asing.
Twitter merupakan bentuk mini dari blogspot. Berbeda dengan Twitter, Blogspot tidak ada batasan karakter dan bisa berupa jadi diary bagi penggunanya. Menurut pengandaian saya,apabila blog itu saya asumsikan sebagai olahraga sepakbola, maka Twitter merupakan bentuk olahraga tersebut berupa futsal.
Aku dapat dikatakan sebagai pengguna ataupun konsumen dari kedua situs itu. Dan baru aku sadari setelah aku menjadi blogspot freak, bahwa aku aktif dalam dunia blog dan microblog berkat ajakan dari seorang wanita yang mewarnai hidupku akhir-akhir ini.
Aku bersyukur dengan adanya kedua situs itu, karena aku bisa mengutarakan perasaan ku disini yang bisa dibilang sedang krisis akan teman curhat atau orang yang mau mendengar cerita sehari-hariku. Termasuk saat ini, dimana aku bosan akan kuliah di hari Sabtu. Blogspot menjadi tempat pelarian isi hatiku selain yang Maha Kuasa yang selalu mendengar dan melihat hambaNya yang sedang berjuang di negeri asing.
Aku bisa bebas berekspresi melalui blogspot. Awalnya aku hanya ingin menjadikan ini sebagai “my secret diary”, tapi tak apalah bila wanita itu membacanya karena aku percaya sama dia dan tidak akan memberitahukan cerita ini pada orang lain, at least hingga aku mau berbagi tentang blog ini.
Lalu kenapa aku menganggap Twitter itu sebagi musuh ku? Disaat teman-temanku banyak yang baru bergabung di situs microbloging tersebut, aku saat ini sudah mempunyai lebih dari 1000 postingan atau lebih dikenal dengan istilah tweet. Namun, makin hari terutama di jam makan siang dan weekend Indonesia, aku makin merasa twitter as a stranger. Dia tidak lagi bersahabat denganku. Banyak temanku terutama yang baru bergabung, bisa aku bilang norak. Mulai dari laporan sedang makan ini, pergi ke suatu tempat, nonton film tertentu, jalan ke konser ini, daaaaan yang paling membuat aku makin kesal adalah ketika diantara mereka memamerkan dirinya sedang bersama pacarnya. Hahaha. Rasa iri hinggap di hatiku.
Oleh sebab itu, aku sudah mulai mengurangi jumlah kunjungan terhadap situs kecuali aku mengetik www.twitter.com/nama wanita itu. Kadang aku suka tertawa dan terharu melihat beberapa tweet dari dia.
Disaat perasaan bosan makin menjadi, tak aku duga aku menerima sebuah SMS dari seorang bunda pengurus organisasi ku. Isinya berupa kalimat panjang agar tetap semangat dan untuk tetap senantiasa mengingat Allah dan tetap dijalanNya agar dimudahkan segala urusan. Spontan aku balas. Tak lama setelah pesan terkirim, aku mendapat SMS baru dari wanita itu. Dia sedang makan di sebuah tempat yang aku berkeinginan untuk kesana bersamanya. Aaaaaa,, aku mau cepat lulus, kembali ke Jakarta, mempunyai penghasilan dan mewujudkan semua anganku.
Salle 220 Brand Management Sabtu Siang, 14.23
06 November 2009
I TOOK THE ONE LESS TRAVELED BY
The Road Not Taken By Robert Frost
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I--
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
Phrase itu, sedikit banyak mempengaruhi aku dalam membuat keputusan melanjutkan kuliah lagi. Semua pendapat rata-rata menganjurkan untuk mencari kerja dulu agar dapat pengalaman, tapi tidak begitu dengan aku.
Sama seperti pendapat Robert Frost, aku lebih memilih jalan yang sedikit diambil dari orang kebanyakan dan membuat perbedaan. Aku tidak mau sombong dengan keputusan yang kita ambil. Tapi aku akan buktikan hasil keputusan aku yang berbeda dari kaum mayoritas, bahwa itu lebih baik. Soon..
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I--
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
Phrase itu, sedikit banyak mempengaruhi aku dalam membuat keputusan melanjutkan kuliah lagi. Semua pendapat rata-rata menganjurkan untuk mencari kerja dulu agar dapat pengalaman, tapi tidak begitu dengan aku.
Sama seperti pendapat Robert Frost, aku lebih memilih jalan yang sedikit diambil dari orang kebanyakan dan membuat perbedaan. Aku tidak mau sombong dengan keputusan yang kita ambil. Tapi aku akan buktikan hasil keputusan aku yang berbeda dari kaum mayoritas, bahwa itu lebih baik. Soon..
02 November 2009
KESEPIAN DALAM KERAMAIAN, IRONIC THING.
Anak jalanan kembang metropolitan
Selalu ramai dalam kesepian
Anak jalanan kembang metropolitan
Selalu kesepian di keramaian
Tiada tempat mengadu
Tempat mencurahkan isi kalbu...
(Chrisye – Anak Jalanan)
Aku hanya bisa tertawa mendengar lirik dari lagu itu. Lagu itu dinyanyikan oleh alm Chrisye yang dijadikan soundtrack film Ali Topan. Judul lagu itu sama sekali tidak mencerminkan diriku, namun kalimat “tiada tempat mengadu, tempat mencurahkan isi kalbu” dan kalimat ironi dari “selalu kesepian di keramaian” serta sebaliknya, terasa sesuai dengan keadaanku sekarang. Menjadi anak rantau yang jauh dari keluarga dan pacar, yang terpisahkan jarak ruang dan perbedaan waktu yang mencapai 6 jam, membuat aku benar-benar merasa kesepian.
List YM ku malam ini, terdapat 72 nama yang online. Tapi aku yakin hanya 9 orang saja yang benar-benar masih sadar karena mereka memang berada di belahan bumi yang sama denganku. Benar benar ironis. Blog ini menjadi pelarianku saat otak ini merasa buntu karena tugas. Blog yang tidak pernah aku sangka, ternyata bisa menjadi kawanku di tengah malam. Blog yang aku dulunya meremehkan tekhnolgi yang masih ku anggap baru. Terima kasih untuk blogspot.
Tidak bermaksud untuk mengeluh, namun aku tidak mampu membayangkan hidupku di tiap-tiap malam mendatang. Memang sebaiknya bukan dibayangkan, namun dijalankan sebaik-baiknya. Hanya padaMu, hamba yang sendiri ini memohon perlindungan. Bismillah
Selalu ramai dalam kesepian
Anak jalanan kembang metropolitan
Selalu kesepian di keramaian
Tiada tempat mengadu
Tempat mencurahkan isi kalbu...
(Chrisye – Anak Jalanan)
Aku hanya bisa tertawa mendengar lirik dari lagu itu. Lagu itu dinyanyikan oleh alm Chrisye yang dijadikan soundtrack film Ali Topan. Judul lagu itu sama sekali tidak mencerminkan diriku, namun kalimat “tiada tempat mengadu, tempat mencurahkan isi kalbu” dan kalimat ironi dari “selalu kesepian di keramaian” serta sebaliknya, terasa sesuai dengan keadaanku sekarang. Menjadi anak rantau yang jauh dari keluarga dan pacar, yang terpisahkan jarak ruang dan perbedaan waktu yang mencapai 6 jam, membuat aku benar-benar merasa kesepian.
List YM ku malam ini, terdapat 72 nama yang online. Tapi aku yakin hanya 9 orang saja yang benar-benar masih sadar karena mereka memang berada di belahan bumi yang sama denganku. Benar benar ironis. Blog ini menjadi pelarianku saat otak ini merasa buntu karena tugas. Blog yang tidak pernah aku sangka, ternyata bisa menjadi kawanku di tengah malam. Blog yang aku dulunya meremehkan tekhnolgi yang masih ku anggap baru. Terima kasih untuk blogspot.
Tidak bermaksud untuk mengeluh, namun aku tidak mampu membayangkan hidupku di tiap-tiap malam mendatang. Memang sebaiknya bukan dibayangkan, namun dijalankan sebaik-baiknya. Hanya padaMu, hamba yang sendiri ini memohon perlindungan. Bismillah
Cezembre 318, 021109 21.44
Rizki Ananda Febrianto
Itu nama asli gw yang diberikan oleh bonyok. 23 taun yang lalu, dua orang tua gw memberikan nama itu dengan arti "rejeki seorang anak pria di bulan februari". As simple as that but with a great meaning. Mereka punya panggilan khusus untuk gw, yaitu Kiki. Dan nama itu menjadi nama panggilan di dalam keluarga besar. Kadang orang jauh kalo memanggil gw dengan Kiki terasa aneh.
Tapi seiring perjalanan waktu, nama gw pun mengalamai pengembangan. Beberapa nama panggilan yang pernah hadir dalam hidup gw.
1. Ucil.
Gw inget banget, nama itu gw dapet jaman SMP. Sohib gw bernama Satrio Budhi, partner main bola. Just fyi, badan gw waktu jaman itu ga seperti skrg. Dulu gw pendek dan gemuk. Awalnya ga langsung ucil. Waktu itu, gw lg main basket bareng teman2 seangkatan. Saat itu, gw berhasil mengelabui lawan gw yg badannya sedikit lebih tinggi. Budhi pun mencela temen gw itu dengan “yah masa kalah sm yg badan nya lebih kecil” dan dari situ lah berkembang ucil mengingat psotur gw seperti Oni di Tuyul dan Mbak Yul, sebuah film di masa itu. Hingga saat ini pun, nama itu seperti masih awet. Bahkan seolah-olah menjadi nama beken gw.
2. Alen.
Hahaha kocak niy. Jadi masa-masa ospek SMA, sepertinya udah mulai keliatan kalo muka gw pasaran. Dulu pas ospek rambut gw belah pinggir, kacamata bingkai sedikit tebel tapi ga item, yah mirip anak brit tp ga brit2 bgt. Nah anak kelas 3 ada yg setipe gt style nya dan juga muka nya kalo diliat sekilas mempunyai kemiripan. Nama nya Valen. Akhir nya, gw sempet ditanya2in apakah gw adek nya Valen. Alen stands for Adek nya vaLEN. Dan agak lumayan, berkat itu jg, jd sedikit ada backingan dan temen dari senior walau di SMA gw ga ada senioritas yaa. Tapi nama itu cuma bertahan sebulan kurang karena nama ucil lebih beken sebelumnya.
3. Tuyul.
Kalo ini apes bin sialan. Salah seorang wakil kepala sekolah di SMA gw dulu, tau nama gw ucil. Dan tau jg gw masuk ke bagian anak2 yg geng nya doyan tawuran (maklum anak digit blok m, antara pencinta alam ato ga ya yang anti). Awal nya manggil tuyul cuma gara2 kesel dan ucil itu merupakan makhluk bernama tuyul, eh tapi lama kelamaan masi terus aja dipanggil tuyul dan menular ke beberapa guru laennya.
4. Rizki.
Akhirnya sempet juga dpt masa2 dipanggil nama asli. Beberapa bulan setelah menjadi alumni sebuah training SDM, gw mempunyai temen2 baru di lingkungan baru. Memperkenalkan dirilah dengan nama Rizki. Namun itu hanya bertahan 5 bulan saja sepertinya, gr2 temen maen gw dikampus mulai ikut aktif di organisasi alumni itu. Oiya, sempet ada cerita lucu, ketika membantu trening di belakang layar kegiatan ini, diperkenalkan lah sama si pembawa materi dengan nama Kak Rizki kepada para peserta nya. Eeeh ketika peserta itu menjadi alumni dan nyapa gw, dy malah manggil kak.. ckckck I am not that too old.
5. Whisky.
Sialan niy, gara2 bule ga bisa ngucapin R dan Z, akhirnya nama gw sempet beberapa kali salah panggil. Selalu gw ralat ketika dy salah ngucapin nama gw, eh mereka malah maen aman dengan manggil nama gw dengan Ananda. Huff.
Tapi overall, please call me with Rizki Ananda Febrianto.
The most hated statement ; "betah?"

Rasanya telinga ini seperti sangat bosan mendengarkan pertanyaan, "udah betah disana?", "wah betah dong hidup di Eropa", atau "tinggal di Perancis gendutan pasti karena udah mulai betah ya"
Hampir dua bulan aku tinggal disini, kalimat seperti itu sering sekali terdengar. Ibarat lagu TOP 40 yang merajai tangga lagu masa kini. I dont know, hingga saat ini aku belum menemukan titik kenyamanan baru. Atau mungkin, aku menghindari itu.
Iya, sepertinya aku menghindari dan tidak mencari hal itu. Mungkin diri ini terlalu sibuk dan bosan menghadapi tugas tugas dan tugas yang selalu hadir tiap hari dan harus dihadapi tiap malam nya. Sehingga, apa ini bisa membuat aku betah?
Tidak mencari? Mmmh, semenjak diri ini berjanji untuk belajar serius karena mengejar cita dan cinta, rasa nya keputusan untuk tidak mencari "betah", menurut aku tepat. I cant imagine, ketika waktu untuk kembali ke Jakarta tiba, aku malah menolak itu.
Lalu, bagaimana menjawab atau menghindari pertanyaan itu? Apa iya aku harus cerita alasan dibalik itu? Apa aku harus marah bila ada yang bertanya? Aku tidak menginginkan perdebatan tapi aku ingin semua orang yang bertanya itu mengerti. At least, sampai detik ini aku bisa beradaptasi dengan kehidupan baru ku dan tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang aku sayang di Jakarta. Itu cukup bagiku saat ini.
diatas meja perpustakaan kampus, 021109, 13.22
Hampir dua bulan aku tinggal disini, kalimat seperti itu sering sekali terdengar. Ibarat lagu TOP 40 yang merajai tangga lagu masa kini. I dont know, hingga saat ini aku belum menemukan titik kenyamanan baru. Atau mungkin, aku menghindari itu.
Iya, sepertinya aku menghindari dan tidak mencari hal itu. Mungkin diri ini terlalu sibuk dan bosan menghadapi tugas tugas dan tugas yang selalu hadir tiap hari dan harus dihadapi tiap malam nya. Sehingga, apa ini bisa membuat aku betah?
Tidak mencari? Mmmh, semenjak diri ini berjanji untuk belajar serius karena mengejar cita dan cinta, rasa nya keputusan untuk tidak mencari "betah", menurut aku tepat. I cant imagine, ketika waktu untuk kembali ke Jakarta tiba, aku malah menolak itu.
Lalu, bagaimana menjawab atau menghindari pertanyaan itu? Apa iya aku harus cerita alasan dibalik itu? Apa aku harus marah bila ada yang bertanya? Aku tidak menginginkan perdebatan tapi aku ingin semua orang yang bertanya itu mengerti. At least, sampai detik ini aku bisa beradaptasi dengan kehidupan baru ku dan tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang aku sayang di Jakarta. Itu cukup bagiku saat ini.
diatas meja perpustakaan kampus, 021109, 13.22
01 November 2009
My LIFE according John Mayer song



A few months ago, Ive got this note form my friend. It likes, you describe yourself according your favourite musician. Well, at the first time, I thought it is weird but I enjoy to fill it and finally I can finish it. I pick John Mayer, gw dengerin musik nya dy dari jaman SMA kelas 2, lagu nya dia dulu smpt jadi partner bwt gw belajar nyetir dan sangat ngarep bgt kalo gw bs ntn konser nya dy.. Ok ini jawaban gw.
Using only song names from ONE BAND or ARTIST, cleverly answer these questions. Pass it on to 15 people you like and include me. You can't use the band I used. Try not to repeat a song title.
Artist: John Mayer
Are you a female: Not Myself (of course not)
Describe yourself: Bold As Love
How do you feel: Slow Dancing In A Burning Room
Describe where you currently live: In Your Atmosphere
If you could go anywhere, where would you go: City Love
Your favorite form of transportation: Stop This Train
Your best friend is: Gravity
You and your best friends are: The Heart of Life
What's the weather like: Clarity
Favorite time of day: No Such Thing / Dreaming
If your life was a TV show, what would it be called: In repair (pimp my ride on MTV will be changed into pimp my life to the better life.hehe)
What is life to you: Waiting For The World To Change
Your relationship: Good Love Is On The Way
Your fear: I Don't Trust Myself and Something Missing
What is the best advice you have to give: Come Back To Bed
How I would like to die: Free Fallin' or 3 X 5
My soul's present condition: Bigger Than My Body
My Motto: Say (What You Need To Say)
21 October 2009
KAIZEN di kehidupan yang Global
“Jadi kita ulang, kaizen itu, ambil yang baik, buang yang buruk dan ciptakan hal yang baru. Tapi jangan terapkan itu di masjid ya, ntar ke masjid bawa sandal jepit jelek pulang nya bawa sandal kulit”.
Joke seperti itu masih terngiang jelas di kepala ku dulu karena aku pernah terlibat dari kegiatan training sumber daya manusia (sejauh ini, mereka lebih meng-klaim training SDM ketimbang lembaga dakwah) yang ternyata sedikit banyak mampu mengubah jalan hidup ku. Training tersebut ternyata mampu mengubah cara berpikir dan membuat ku menjadi pribadi yang lebih kritis menghadapi segala permasalahan, termasuk menghadapi perbedaan budaya di negara tempat tinggal ku yang baru, Perancis.
Ya, sebenarnya untuk mengimplementasikan materi training yang telah ku dapat tidaklah mudah namun harus terus ku coba. Selama ini, aku merasa belum seratus persen berhasil tapi setidaknya aku berusaha untuk mendekati batas itu. Itulah yang disebut Kaizen, perbaikan terus menerus.
Kehidupan baru ku sekarang ini menuntut diriku untuk lebih memfilter segala kehidupan dunia yg tidak sejalan dengan AlQuran. Padahal negara tempat tinggal ku yang baru ini, hampir semua aktivitas nya jauh dari Kitab Suci ku. Beberapa hal yg bersifat biasa saja disini diantaranya public display affection, minuman alkohol di jual bebas dan menampakkan aurat. Aku percaya ungkapan, "berlian akan semakin mengkilap bila terus ditempa namun akan hilang kilau nya bila didiamkan begitu saja". Sama hal nya dengan istiqamah dan iman. Dia harus senantiasa dijaga dengan cara tetap menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya. Aku menganggap, semua hal biasa itu sebagai ujian, karena aku yakin Allah tidak akan memberi cobaan yang hamba Nya tak mampu. Untuk itu, aku pun memilih-milih dalam hal pergaulan untuk menjaga kilau berlian ku.
Namun tidak semua yang ada disini itu buruk. Negara fashion ini ternyata juga memiliki banyak hal positif yang bisa aku kaizen-kan. Hal yang sesungguhnya di Kitab Suci ku sudah tertulis jelas, namun penduduk sini justru lebih mampu menjalankan nya. Ironis bila dibandingkan dengan Indonesia. Contoh pertama, disiplin. Sekedar gambaran, kota ini terlihat hidup pada Kamis malam dimana muda-mudi beredar di klub-klub malam. Dari pengamatanku atas beberapa orang, mereka tetap melaksanakan rutinitas mereka tiap Kamis malam dan tetap beraktivitas pada Jumat pagi keesokan harinya. Kegiatan mereka mencari hiburan tidak mengurangi rasa tanggung jawab untuk tetap bekerja atau belajar keesokan harinya. Contoh lain, di Perancis, pengguna kendaraan bermotor benar–benar mematuhi peraturan lalu lintas. Tidak ada lampu kuning disini. Di Jakarta, lampu kuning mempunyai makna baru yaitu tambah gas agar tidak terkena lampu merah. Selain itu, bila di persimpangan tanpa lampu lalu lintas bisa dipastikan salah satu pihak akan mengalah. Sulit kita temui hal tersebut di Indonesia.
Hal berikutnya yang bisa dikaizenkan adalah ucapan salam dan terima kasih. Setiap bertemu orang walau tidak dikenal namun hidup di daerah yang sama, penduduk Perancis terbiasa mengucapkan sapaan seperti “salut”, “bonjour” atau “bonsoir”. Begitu juga apabila telah mendapatkan bantuan apapun seperti di supermarket atau bis kota, tidak lupa mengucapkan “merci”, “au revoir” atau “bon journee”. Hal simple namun mempunya makna yang cukup berarti. Terkadang aku merasa takjub. Aku pernah menemukan kejadian di Jakarta bahwa seorang satpam menggerutu ketika telah membantu pengunjung di sebuah supermarket, "udah gw bantuin ga bilang makasi lagi". As simple as that.
Hal positif terakhir yang terbesit dalam benak ku adalah sikap menghargai. Di daerah berupa open space, aku mengalami kejadian dimana ada pria dan wanita Perancis yang ingin merokok. meminta izin kepada ku terlebih dahulu dan menanyakan apakah aku terganggu atau tidak. Kejadian lain yang aku alami adalah, banyak pemuda disini terlihat sering memberikan bangku kepada orang yang lebih tua atau terlihat lebih membutuhkan. Padahal, di dalam bis maupun kereta, tidak ada petunjuk seperti halnya di bis transjakarta yang seolah mewajibkan pengguna bis tersebut mengalah kepada ibu hamil, nenek-nenek dan orang cacat. Tapi nyatanya, warga Perancis jauh lebih sadar akan hal ini tanpa perlu diingatkan.
Ya, sebenarnya untuk mengimplementasikan materi training yang telah ku dapat tidaklah mudah namun harus terus ku coba. Selama ini, aku merasa belum seratus persen berhasil tapi setidaknya aku berusaha untuk mendekati batas itu. Itulah yang disebut Kaizen, perbaikan terus menerus.
Kehidupan baru ku sekarang ini menuntut diriku untuk lebih memfilter segala kehidupan dunia yg tidak sejalan dengan AlQuran. Padahal negara tempat tinggal ku yang baru ini, hampir semua aktivitas nya jauh dari Kitab Suci ku. Beberapa hal yg bersifat biasa saja disini diantaranya public display affection, minuman alkohol di jual bebas dan menampakkan aurat. Aku percaya ungkapan, "berlian akan semakin mengkilap bila terus ditempa namun akan hilang kilau nya bila didiamkan begitu saja". Sama hal nya dengan istiqamah dan iman. Dia harus senantiasa dijaga dengan cara tetap menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya. Aku menganggap, semua hal biasa itu sebagai ujian, karena aku yakin Allah tidak akan memberi cobaan yang hamba Nya tak mampu. Untuk itu, aku pun memilih-milih dalam hal pergaulan untuk menjaga kilau berlian ku.
Namun tidak semua yang ada disini itu buruk. Negara fashion ini ternyata juga memiliki banyak hal positif yang bisa aku kaizen-kan. Hal yang sesungguhnya di Kitab Suci ku sudah tertulis jelas, namun penduduk sini justru lebih mampu menjalankan nya. Ironis bila dibandingkan dengan Indonesia. Contoh pertama, disiplin. Sekedar gambaran, kota ini terlihat hidup pada Kamis malam dimana muda-mudi beredar di klub-klub malam. Dari pengamatanku atas beberapa orang, mereka tetap melaksanakan rutinitas mereka tiap Kamis malam dan tetap beraktivitas pada Jumat pagi keesokan harinya. Kegiatan mereka mencari hiburan tidak mengurangi rasa tanggung jawab untuk tetap bekerja atau belajar keesokan harinya. Contoh lain, di Perancis, pengguna kendaraan bermotor benar–benar mematuhi peraturan lalu lintas. Tidak ada lampu kuning disini. Di Jakarta, lampu kuning mempunyai makna baru yaitu tambah gas agar tidak terkena lampu merah. Selain itu, bila di persimpangan tanpa lampu lalu lintas bisa dipastikan salah satu pihak akan mengalah. Sulit kita temui hal tersebut di Indonesia.
Hal berikutnya yang bisa dikaizenkan adalah ucapan salam dan terima kasih. Setiap bertemu orang walau tidak dikenal namun hidup di daerah yang sama, penduduk Perancis terbiasa mengucapkan sapaan seperti “salut”, “bonjour” atau “bonsoir”. Begitu juga apabila telah mendapatkan bantuan apapun seperti di supermarket atau bis kota, tidak lupa mengucapkan “merci”, “au revoir” atau “bon journee”. Hal simple namun mempunya makna yang cukup berarti. Terkadang aku merasa takjub. Aku pernah menemukan kejadian di Jakarta bahwa seorang satpam menggerutu ketika telah membantu pengunjung di sebuah supermarket, "udah gw bantuin ga bilang makasi lagi". As simple as that.
Hal positif terakhir yang terbesit dalam benak ku adalah sikap menghargai. Di daerah berupa open space, aku mengalami kejadian dimana ada pria dan wanita Perancis yang ingin merokok. meminta izin kepada ku terlebih dahulu dan menanyakan apakah aku terganggu atau tidak. Kejadian lain yang aku alami adalah, banyak pemuda disini terlihat sering memberikan bangku kepada orang yang lebih tua atau terlihat lebih membutuhkan. Padahal, di dalam bis maupun kereta, tidak ada petunjuk seperti halnya di bis transjakarta yang seolah mewajibkan pengguna bis tersebut mengalah kepada ibu hamil, nenek-nenek dan orang cacat. Tapi nyatanya, warga Perancis jauh lebih sadar akan hal ini tanpa perlu diingatkan.
InsyaAllah aku akan melakukan prinsip 3 M, Mulai dari diriku sendiri, Mulai dari hal yang kecil dan Mulai saat ini juga. Semoga, bila aku sudah terbiasa, aku bisa menciptakan hal yang baru di Jakarta, seperti prinsip Kaizen; buang yang buruk, ambil yang baik, ciptakan yang baru.
20 October 2009
Jika Hobi Menjadi Profesi
Sebelum gw lanjutin, apa komen kalian dengan judul itu?
Menurut gw, itu semacam surga duniawi. Terlebih bila profesi yg digelutin itu halal, makin lengkaplah.
Betapa beruntungnya orang yang mempunyai profesi karena hobi nya. Dia akan menjalani aktivitas itu dengan sepenuh hati tanpa ada keluhan yang aneh-aneh dan bener-bener bisa mengekspresikan apa yang dia suka. Iya, karena itu hobi dan lo mendapat upah dari hobi lo itu.
Gw coba ambil beberapa contoh, seperti;
Ponaryo Astaman, kapten sepakbola Indonesia. Terlepas dari prestasi timnas saat ini, pria yang satu ini bisa mempunyai penghasilan milyaran rupiah dari hanya "lari dan menari" di lapangan bola. Dia pasti sangat menikmati profesinya itu.
Bagaimana dengan Armand Maulana? Vokalis grup dari Bandung yang bermodal suara bagus dan bisa nyanyi, dia mempunyai income yang digunakan untuk menghidupi istri dan anaknya hasil dari manggung sana-sini.
Sekarang coba gw kasi contoh dari lingkungan terdekat gw, my InsyaAllah dan adeknya. Mine dari ide awal menulis artikel tentang pake jilbab pun bisa tetep gaul, dy mengisi beberapa artikel tentang hijab di sebuah majalah ABG cewe Indonesia. Sang adeknya, dari yang hobi foto-foto, dy bisa dapat tambahan uang jajan sendiri dari hasil fotografi nya.
Memang rezeki telah ada yg ngatur, tp bukan berarti kita diem duduk berpangku tangan aja. rezeki itu harus dijemput.
Buat yg sudah mempunyai profesi namun ga sesuai sama hobi, syukuri apa yang kalian dapat. Masih banyak diluar sana yang masi mencari penghasilan untuk hidup.
Bagi kalian yang sudah mempunyai profesi sesuai hobi, syukurilah apa yang kalian punya. Kalian adalah segelintir orang beruntung.
Bagi gw, yang blm mempunyai hobi yg bisa dijadiin profesi, terbesit akan menjadikan profesi baru gw nantinya sebagai hobi baru. Tujuannya simple, agar gw bisa tetep menikmati profesi baru gw tanpa ngedumel.
Allah Tahu tapi Ia Menunggu (akan usaha kita)
-Rennes 201009, 23.12-
Subscribe to:
Posts (Atom)

