04 November 2009

dia, seperti apa yang aku inginkan

Aku suka wanita itu.
Hari itu, H-2 sebelum bulan Ramadhan. Aku memberanikan diri untuk mengajaknya jalan. Jalan yang bukan hanya sekedar jalan, itu yang ada di hati dan pikiranku. Ternyata, wanita itu sedang berpuasa. Aku tambahkan niat untuk menemani wanita itu berbuka puasa.

Bagiku, kesan pertama sangat menentukan. Mungkin hal itu berlaku bagi beberapa pria lain. Tapi diluar sana, belum tentu orang tahu bagaimana perasaanku saat itu. Bagaimana pikiranku bekerja. Pikiranku saat itu terus memikirkan hari itu, hari berikutnya dan tentang aku dan dia.

Ternyata, aku terlambat beberapa menit dari waktu yang telah ditentukan. Dia pun keluar dari rumah dengan suara agak parau. Rupanya dia tertidur. Akhirnya kami pun pergi setelah aku pamit izin dengan ibunya. Hati pun bertambah gusar melihat jalanan yang dilalui sangat padat terlebih matahari hampir tenggelam yang menandakan waktu berbuka untuknya akan tiba.

Mencoba membunuh waktu dengan diskusi dan pertanyaan berbau penyelidikan. Aku bertanya, “Jadi bagaimana dengan Miko?”. Anggap saja itu nama pria yang pernah mengisi hatinya. Kepalanya bergerak naik turun dan diiringi tarikan nafas. Seketika bibirnya pun mengucapkan kalimat yang membuat hatiku tersenyum. Pasti malaikat yang bisa membaca hatiku, pasti paham bahwa itu adalah langkah yang bagus untuk selanjutnya.

Hati ini kembali tersenyum karena berhasil tiba di tempat tujuan setelah melalui jalan tikus yang tak pernah diduga sebelumnya. Namun perasaan bersalah terus menghantuiku karena keterlambatanku membuatnya telat berbuka. Hari itu terus dilalui dengan cerita tentang dirinya yang sungguh menarik untuk didengarkan.

2 hari setelah itu, aku mengajaknya ke sebuah majelis untuk menambah ilmu agama. Awalnya, aku hanya mengetest saja. Setelah dua kali menelpon untuk memastikan, akhirnya dia mau. Hati ini tersenyum dan berkata “Jarang-jarang ada wanita yang mau aku ajak ke tempat seperti ini, semoga saja kami mempunyai visi yang sama”. Selesai acara di majelis itu, aku kembali mengantarkan dia pulang. Terbesit iseng-iseng berhadiah di pikiranku untuk mengajaknya ke acara aku dan teman-teman kampusku, Sahur bersama anak yatim. Sayangnya dia tidak bisa. Bukan masalah untuk aku, mungkin dia sungkan dengan lingkungan ku.

Setelah hari itu, aku sepertinya memantapkan niatku untuk menyatakan perasaanku padanya. Harus, mungkin kata yang lebih tepat. Sebelum aku pergi, sebelum aku menyesal dan sebelum dia mempunyai orang lain.

Tiga hari setelah itu. Aku kembali mengajaknya pergi sekaligus menepati janji yang telah aku buat sebelumnya. Tempat tujuan itu adalah tempat yang cukup romantis untuk melihat sunset di daerah utara Jakarta.

Bibirku saat itu lebih banyak terdiam. Pikiran dan hati kembali bekerja setelah mendengar beberapa kalimat dari dia, seperti rencananya di beberapa hari kedepan. Aku kaget. Kapan waktunya untuk aku yaa. Kapan aku harus mengutarakan perasaanku yaa. Dan kapan dan kapan lainnya.. Ratusan pertanyaan menghampiri aku.

Setibanya di tempat tujuan, kami pun langsung duduk di tempat yang telah aku pesan. Tempat yang menurut ku tepat untuk melihat pemandangan. Akhirnya kembali bercerita panjang lebar tentang aku dan dia. Hati ini akhirnya mempunyai keyakinan untuk bicara. Keyakinan itu muncul ketika aku bertanya “Rencana lo setelah lulus emangnya apa?” dan jawaban dari dia cukup membuatku bernafas lega. Ditambah kalimat ketika ibunya menanyakan siapakah aku.

Akhirnya pun aku menyatakan perasaanku yang membutuhkan dia. Butuh, bukan sekedar mau ataupun iseng. Selang setelah itu diiringi dengan kata “Iya” dari bibirnya. Akupun tersenyum lega. Aku pria yang jauh dari kata pria ideal, tidak mempunyai muka tampan dan badan berotot, kepandaian berkata-kata yang lemah, tidak mampu menekan tuts piano dan menyanyikan lagu cinta. Namun detik itu, aku berhasil mengalahkan pria ideal itu dengan mendapatkan wanita tersebut.

Aku merasakan kebahagian yang sangat amat dalam urusan cinta. Setelah sekian lama hati ini jauh dari urusan cinta lawan jenis. Akhirnya ada wanita yang mengucapkan "sayang", kata paling mesra di planet ini.

I hope This is the last time I'll fall... in love. (Eric Benet – Last Time)

02 November 2009

Istri Umar bin Khatab pun cerewet

Ada artikel bagus, silahkan membaca. Semoga berguna.

Istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun sama.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umarbin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengankecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-lakiitu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar.Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4.

Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yangsudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.

4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.
5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya

*diambil FTJAI yang diolah dari Cahaya Iman, edisi kamis, 30 November 2006-11-30, Indosiar pukul 04:30*

KESEPIAN DALAM KERAMAIAN, IRONIC THING.

Anak jalanan kembang metropolitan
Selalu ramai dalam kesepian
Anak jalanan kembang metropolitan
Selalu kesepian di keramaian

Tiada tempat mengadu
Tempat mencurahkan isi kalbu...
(Chrisye – Anak Jalanan)

Aku hanya bisa tertawa mendengar lirik dari lagu itu. Lagu itu dinyanyikan oleh alm Chrisye yang dijadikan soundtrack film Ali Topan. Judul lagu itu sama sekali tidak mencerminkan diriku, namun kalimat “tiada tempat mengadu, tempat mencurahkan isi kalbu” dan kalimat ironi dari “selalu kesepian di keramaian” serta sebaliknya, terasa sesuai dengan keadaanku sekarang. Menjadi anak rantau yang jauh dari keluarga dan pacar, yang terpisahkan jarak ruang dan perbedaan waktu yang mencapai 6 jam, membuat aku benar-benar merasa kesepian.

List YM ku malam ini, terdapat 72 nama yang online. Tapi aku yakin hanya 9 orang saja yang benar-benar masih sadar karena mereka memang berada di belahan bumi yang sama denganku. Benar benar ironis. Blog ini menjadi pelarianku saat otak ini merasa buntu karena tugas. Blog yang tidak pernah aku sangka, ternyata bisa menjadi kawanku di tengah malam. Blog yang aku dulunya meremehkan tekhnolgi yang masih ku anggap baru. Terima kasih untuk blogspot.

Tidak bermaksud untuk mengeluh, namun aku tidak mampu membayangkan hidupku di tiap-tiap malam mendatang. Memang sebaiknya bukan dibayangkan, namun dijalankan sebaik-baiknya. Hanya padaMu, hamba yang sendiri ini memohon perlindungan. Bismillah
Cezembre 318, 021109 21.44

Rizki Ananda Febrianto

Itu nama asli gw yang diberikan oleh bonyok. 23 taun yang lalu, dua orang tua gw memberikan nama itu dengan arti "rejeki seorang anak pria di bulan februari". As simple as that but with a great meaning. Mereka punya panggilan khusus untuk gw, yaitu Kiki. Dan nama itu menjadi nama panggilan di dalam keluarga besar. Kadang orang jauh kalo memanggil gw dengan Kiki terasa aneh.

Tapi seiring perjalanan waktu, nama gw pun mengalamai pengembangan. Beberapa nama panggilan yang pernah hadir dalam hidup gw.

1. Ucil.
Gw inget banget, nama itu gw dapet jaman SMP. Sohib gw bernama Satrio Budhi, partner main bola. Just fyi, badan gw waktu jaman itu ga seperti skrg. Dulu gw pendek dan gemuk. Awalnya ga langsung ucil. Waktu itu, gw lg main basket bareng teman2 seangkatan. Saat itu, gw berhasil mengelabui lawan gw yg badannya sedikit lebih tinggi. Budhi pun mencela temen gw itu dengan “yah masa kalah sm yg badan nya lebih kecil” dan dari situ lah berkembang ucil mengingat psotur gw seperti Oni di Tuyul dan Mbak Yul, sebuah film di masa itu. Hingga saat ini pun, nama itu seperti masih awet. Bahkan seolah-olah menjadi nama beken gw.
2. Alen.
Hahaha kocak niy. Jadi masa-masa ospek SMA, sepertinya udah mulai keliatan kalo muka gw pasaran. Dulu pas ospek rambut gw belah pinggir, kacamata bingkai sedikit tebel tapi ga item, yah mirip anak brit tp ga brit2 bgt. Nah anak kelas 3 ada yg setipe gt style nya dan juga muka nya kalo diliat sekilas mempunyai kemiripan. Nama nya Valen. Akhir nya, gw sempet ditanya2in apakah gw adek nya Valen. Alen stands for Adek nya vaLEN. Dan agak lumayan, berkat itu jg, jd sedikit ada backingan dan temen dari senior walau di SMA gw ga ada senioritas yaa. Tapi nama itu cuma bertahan sebulan kurang karena nama ucil lebih beken sebelumnya.
3. Tuyul.
Kalo ini apes bin sialan. Salah seorang wakil kepala sekolah di SMA gw dulu, tau nama gw ucil. Dan tau jg gw masuk ke bagian anak2 yg geng nya doyan tawuran (maklum anak digit blok m, antara pencinta alam ato ga ya yang anti). Awal nya manggil tuyul cuma gara2 kesel dan ucil itu merupakan makhluk bernama tuyul, eh tapi lama kelamaan masi terus aja dipanggil tuyul dan menular ke beberapa guru laennya.
4. Rizki.
Akhirnya sempet juga dpt masa2 dipanggil nama asli. Beberapa bulan setelah menjadi alumni sebuah training SDM, gw mempunyai temen2 baru di lingkungan baru. Memperkenalkan dirilah dengan nama Rizki. Namun itu hanya bertahan 5 bulan saja sepertinya, gr2 temen maen gw dikampus mulai ikut aktif di organisasi alumni itu. Oiya, sempet ada cerita lucu, ketika membantu trening di belakang layar kegiatan ini, diperkenalkan lah sama si pembawa materi dengan nama Kak Rizki kepada para peserta nya. Eeeh ketika peserta itu menjadi alumni dan nyapa gw, dy malah manggil kak.. ckckck I am not that too old.
5. Whisky.
Sialan niy, gara2 bule ga bisa ngucapin R dan Z, akhirnya nama gw sempet beberapa kali salah panggil. Selalu gw ralat ketika dy salah ngucapin nama gw, eh mereka malah maen aman dengan manggil nama gw dengan Ananda. Huff.
Tapi overall, please call me with Rizki Ananda Febrianto.

The most hated statement ; "betah?"


Rasanya telinga ini seperti sangat bosan mendengarkan pertanyaan, "udah betah disana?", "wah betah dong hidup di Eropa", atau "tinggal di Perancis gendutan pasti karena udah mulai betah ya"

Hampir dua bulan aku tinggal disini, kalimat seperti itu sering sekali terdengar. Ibarat lagu TOP 40 yang merajai tangga lagu masa kini. I dont know, hingga saat ini aku belum menemukan titik kenyamanan baru. Atau mungkin, aku menghindari itu.

Iya, sepertinya aku menghindari dan tidak mencari hal itu. Mungkin diri ini terlalu sibuk dan bosan menghadapi tugas tugas dan tugas yang selalu hadir tiap hari dan harus dihadapi tiap malam nya. Sehingga, apa ini bisa membuat aku betah?

Tidak mencari? Mmmh, semenjak diri ini berjanji untuk belajar serius karena mengejar cita dan cinta, rasa nya keputusan untuk tidak mencari "betah", menurut aku tepat. I cant imagine, ketika waktu untuk kembali ke Jakarta tiba, aku malah menolak itu.

Lalu, bagaimana menjawab atau menghindari pertanyaan itu? Apa iya aku harus cerita alasan dibalik itu? Apa aku harus marah bila ada yang bertanya? Aku tidak menginginkan perdebatan tapi aku ingin semua orang yang bertanya itu mengerti. At least, sampai detik ini aku bisa beradaptasi dengan kehidupan baru ku dan tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang aku sayang di Jakarta. Itu cukup bagiku saat ini.

diatas meja perpustakaan kampus, 021109, 13.22

hufff

And the morning is for you
And the air is free
And the birds sing for you
And your positivity
(Suede - Positivity)

Keluar kamar pagi hari, secara tak sadar diri ini mendendangkan lagu tersebut. I dont know why, It happened suddenly. Mungkin kalo dipikir-pikir dari kejadian malam hari, diri ini sempat goyah akan nama nya hidup menjadi anak rantau. Jauh dari kehidupan nyaman di Jakarta. Mungkin bisa dibilang homesick tp belum separah itu juga sih.

Otak terus berputar namun tetap tidak menemukan jawaban. Padahal diri ini senantiasa mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta. Apakah kurang kuantitas nya?

Whatever it takes, I must sure about what I am doin' here. It must be greatest thing for my future. I hope so.

perpustakaan pagi galau, 021109 09.37

01 November 2009

My LIFE according John Mayer song







A few months ago, Ive got this note form my friend. It likes, you describe yourself according your favourite musician. Well, at the first time, I thought it is weird but I enjoy to fill it and finally I can finish it. I pick John Mayer, gw dengerin musik nya dy dari jaman SMA kelas 2, lagu nya dia dulu smpt jadi partner bwt gw belajar nyetir dan sangat ngarep bgt kalo gw bs ntn konser nya dy.. Ok ini jawaban gw.

Using only song names from ONE BAND or ARTIST, cleverly answer these questions. Pass it on to 15 people you like and include me. You can't use the band I used. Try not to repeat a song title.

Artist: John Mayer

Are you a female: Not Myself (of course not)

Describe yourself: Bold As Love

How do you feel: Slow Dancing In A Burning Room

Describe where you currently live: In Your Atmosphere

If you could go anywhere, where would you go: City Love

Your favorite form of transportation: Stop This Train

Your best friend is: Gravity

You and your best friends are: The Heart of Life

What's the weather like: Clarity

Favorite time of day: No Such Thing / Dreaming

If your life was a TV show, what would it be called: In repair (pimp my ride on MTV will be changed into pimp my life to the better life.hehe)

What is life to you: Waiting For The World To Change

Your relationship: Good Love Is On The Way

Your fear: I Don't Trust Myself and Something Missing

What is the best advice you have to give: Come Back To Bed

How I would like to die: Free Fallin' or 3 X 5

My soul's present condition: Bigger Than My Body

My Motto: Say (What You Need To Say)

27 October 2009

UNINTENDED (yang tak terduga)

Lately, aku baru saja sadar akan lirik lagu dari Muse yang judulnya Unintended. Aku mengetahui makna lagu ini dari sebuah radio di Jakarta, aku lupa tepatnya yang jelas lagu ini keluar pas jaman aku baru ngerasain bangku kuliah.
Akhir-akhir ini, I Tunes ku men shuffle lagu ini beberapa kali dan akhirnya aku memutuskan untuk menulis blog ini setelah lagu itu kembali terpasang secara tidak sengaja. Aku merasa, sepertinya lagu ini sangat pas dengan hidup ku sekarang. Bukan bermaksud untuk mengkaktifkan sisi mellow dalam diriku saat ini tapi apa daya, bila diingat-ingat beberapa bulan terakhir, rasa nya memang pas aja.

Silahkan dibaca lirik nya
You could be my unintended
Choice to live my life extended
You could be the one I'll always love
You could be the one who listens to my deepest inquisitions
You could be the one I'll always love

I'll be there as soon as I can
But I'm busy mending broken pieces of the life I had before

First there was the one who challenged
All my dreams and all my balance
She could never be as good as you

You could be my unintended
Choice to live my life extended
You should be the one I'll always love

I'll be there as soon as I can
But I'm busy mending broken pieces of the life I had before

I'll be there as soon as I can
But I'm busy mending broken pieces of the life I had before

Before you

Sebelum ini, kayaknya aku hampir nyerah sama yang nama nya cinta. Seperti pada titik malas mencari dan biarkan itu datang. Hingga sesuatu tak terduga itu datang.

Yup, mine is my unintended now.

24 October 2009

YANG MENCINTAIMU, TIDAK AKAN MENGAJAKMU KE NERAKA


Yang Mencintaimu, Wajib Mencintai Tuhannya
Yang Mencintaimu, Pasti Akan Mencintai Dirinya Sendiri Juga
Yang Mencintaimu, Harus Menyayangi Keluarganya

Bagaimana Dia Mau Mencintaimu, Bila Dia Tidak Mengetahui Siapa Tuhannya
Bagaimana Dia Mau Mencintaimu, Bila Dia Seorang Peminum
Bagaimana Dia Mau Mencintaimu, Bila Terhadap Ibunya Saja Suka Berkata “argh”


*pengembangan obrolan via YM dengan seorang yang berhobby menulis

22 October 2009

cambuk bagi si perantau

Malam ini, sebelum ku mulai membaca materi kuliah, kumainkan jariku diatas keyboard laptop dan menyelami beberapa situs, salah satunya Facebook. Aku menemukan status yang bagus dari seorang kawan ta'lim ku di Jakarta. Berikut tulisannya.
"Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang".
(Imam Syafii)
Seketika aku langsung teringat Merantau, film terakhir yang aku tonton di Jakarta bersama teman-teman sepermainanku. Pada intro film tersebut terdapat kalimat,
"Dalam tradisi Minangkabau, setiap anak laki-laki akan pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka dan berjalan mencari pengalaman hidup. Pengalaman hidup yang membuat nya menjadi lelaki sejati'.
(Merantau Movie)
Dua quotes itu terasa menusuk jantungku. Haru dan semangat bercampur dalam benakku. Aku merasa haru karena aku sedang mengalami kehidupan rantau dan pernah berada pada lowest point di petualangan baru ku. Namun kalimat "Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang" menaikkan semangatku. Begitu juga dengan kalimat "Pengalaman hidup yang membuatnya menjadi lelaki sejati", seakan menjadi cambuk bagiku bahwa seorang pria harus kokoh dan kuat menghadapi tempaan hidup. Karena didepan masih akan ada cobaan yang jauh lebih berat terlebih setelah berkeluarga. Bangkit ki, bangkit !!