The Road Not Taken By Robert Frost
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I--
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
Phrase itu, sedikit banyak mempengaruhi aku dalam membuat keputusan melanjutkan kuliah lagi. Semua pendapat rata-rata menganjurkan untuk mencari kerja dulu agar dapat pengalaman, tapi tidak begitu dengan aku.
Sama seperti pendapat Robert Frost, aku lebih memilih jalan yang sedikit diambil dari orang kebanyakan dan membuat perbedaan. Aku tidak mau sombong dengan keputusan yang kita ambil. Tapi aku akan buktikan hasil keputusan aku yang berbeda dari kaum mayoritas, bahwa itu lebih baik. Soon..
06 November 2009
05 November 2009
KETIKA 2 ORANG ITU BERTEMU
Kembali, tentang aku dan wanita itu.
Aku mengibaratkan dua orang yang pernah kecewa karena cinta bertemu, bagaikan dua orang buta yang tersesat dalam ruangan bergandengan tangan menuju ke alam bebas.
Aku menyadari itu, saat semalam aku menelpon wanita itu melalui fasilitas telpon gratis yang disediakan oleh neufbox. Ketika dia bercerita mengenai masa lalunya, aku merasakan ada kesamaan. Iya, sama-sama kecewa.
Cerita dari dia itu akhirnya membukakan mata hatiku. Dulu, aku sepakat dengan pendapat bahwa "love is just a game", dan dari setiap permainan pasti ada pemenang dan sisi pecundang. Hingga saat ini, aku selalu berpendapat bahwa pria lah yang selalu kalah. Faktor lingkungan aku cukup membelengguku akan pendapat ini. Padahal apabila aku mendengar radio dikota ku, justru malah sebaliknya.
Tapi, kali ini aku merasa miris. Karena aku mendengar langsung dari sisi wanita dan wanita itu adalah dia. Bagaimana bisa dan seolah tidak masuk ke logika saja ketika wanita seperti dia tidak diperlakukan semestinya. Berjuta harapan pun muncul dari diriku agar tidak menyakiti hatinya.
Semoga harapan itu dapat berbentuk aksi dan menjadi nyata.
2 bulan
Sudah dua bulan aku berada dikota baru ku ini.
Sudah dua bulan pula aku menjalani profesi rangkap, pelajar dan kata beberapa orang sih latihan jadi bapak rumah tangga.
Sudah dua bulan, aku terpisah jarak ruang dan waktu dari keluarga, pacar dan teman-temanku
Sudah dua bulan aku hidup dalam kesendirian, kemandirian dan kesepian kala malam.
Sudah dua bulan juga aku merasakan perbedaan mahasiswa S2 yang terbebani dengan banyak tugas dibanding S1 yang masih bisa merasakan hura-hura
Eh mungkin salah. Seharusnya aku mengganti kata "sudah" dengan "baru". Iya, karena baru 2 bulan. Dan kemungkinan akan ada maksimal 16 bulan lagi atau 8 bulan lagi aku seperti ini.
Bismillahirrahmanirrohim
04 November 2009
dia, seperti apa yang aku inginkan
Aku suka wanita itu.
Hari itu, H-2 sebelum bulan Ramadhan. Aku memberanikan diri untuk mengajaknya jalan. Jalan yang bukan hanya sekedar jalan, itu yang ada di hati dan pikiranku. Ternyata, wanita itu sedang berpuasa. Aku tambahkan niat untuk menemani wanita itu berbuka puasa.
Bagiku, kesan pertama sangat menentukan. Mungkin hal itu berlaku bagi beberapa pria lain. Tapi diluar sana, belum tentu orang tahu bagaimana perasaanku saat itu. Bagaimana pikiranku bekerja. Pikiranku saat itu terus memikirkan hari itu, hari berikutnya dan tentang aku dan dia.
Ternyata, aku terlambat beberapa menit dari waktu yang telah ditentukan. Dia pun keluar dari rumah dengan suara agak parau. Rupanya dia tertidur. Akhirnya kami pun pergi setelah aku pamit izin dengan ibunya. Hati pun bertambah gusar melihat jalanan yang dilalui sangat padat terlebih matahari hampir tenggelam yang menandakan waktu berbuka untuknya akan tiba.
Mencoba membunuh waktu dengan diskusi dan pertanyaan berbau penyelidikan. Aku bertanya, “Jadi bagaimana dengan Miko?”. Anggap saja itu nama pria yang pernah mengisi hatinya. Kepalanya bergerak naik turun dan diiringi tarikan nafas. Seketika bibirnya pun mengucapkan kalimat yang membuat hatiku tersenyum. Pasti malaikat yang bisa membaca hatiku, pasti paham bahwa itu adalah langkah yang bagus untuk selanjutnya.
Hati ini kembali tersenyum karena berhasil tiba di tempat tujuan setelah melalui jalan tikus yang tak pernah diduga sebelumnya. Namun perasaan bersalah terus menghantuiku karena keterlambatanku membuatnya telat berbuka. Hari itu terus dilalui dengan cerita tentang dirinya yang sungguh menarik untuk didengarkan.
2 hari setelah itu, aku mengajaknya ke sebuah majelis untuk menambah ilmu agama. Awalnya, aku hanya mengetest saja. Setelah dua kali menelpon untuk memastikan, akhirnya dia mau. Hati ini tersenyum dan berkata “Jarang-jarang ada wanita yang mau aku ajak ke tempat seperti ini, semoga saja kami mempunyai visi yang sama”. Selesai acara di majelis itu, aku kembali mengantarkan dia pulang. Terbesit iseng-iseng berhadiah di pikiranku untuk mengajaknya ke acara aku dan teman-teman kampusku, Sahur bersama anak yatim. Sayangnya dia tidak bisa. Bukan masalah untuk aku, mungkin dia sungkan dengan lingkungan ku.
Setelah hari itu, aku sepertinya memantapkan niatku untuk menyatakan perasaanku padanya. Harus, mungkin kata yang lebih tepat. Sebelum aku pergi, sebelum aku menyesal dan sebelum dia mempunyai orang lain.
Tiga hari setelah itu. Aku kembali mengajaknya pergi sekaligus menepati janji yang telah aku buat sebelumnya. Tempat tujuan itu adalah tempat yang cukup romantis untuk melihat sunset di daerah utara Jakarta.
Bibirku saat itu lebih banyak terdiam. Pikiran dan hati kembali bekerja setelah mendengar beberapa kalimat dari dia, seperti rencananya di beberapa hari kedepan. Aku kaget. Kapan waktunya untuk aku yaa. Kapan aku harus mengutarakan perasaanku yaa. Dan kapan dan kapan lainnya.. Ratusan pertanyaan menghampiri aku.
Setibanya di tempat tujuan, kami pun langsung duduk di tempat yang telah aku pesan. Tempat yang menurut ku tepat untuk melihat pemandangan. Akhirnya kembali bercerita panjang lebar tentang aku dan dia. Hati ini akhirnya mempunyai keyakinan untuk bicara. Keyakinan itu muncul ketika aku bertanya “Rencana lo setelah lulus emangnya apa?” dan jawaban dari dia cukup membuatku bernafas lega. Ditambah kalimat ketika ibunya menanyakan siapakah aku.
Akhirnya pun aku menyatakan perasaanku yang membutuhkan dia. Butuh, bukan sekedar mau ataupun iseng. Selang setelah itu diiringi dengan kata “Iya” dari bibirnya. Akupun tersenyum lega. Aku pria yang jauh dari kata pria ideal, tidak mempunyai muka tampan dan badan berotot, kepandaian berkata-kata yang lemah, tidak mampu menekan tuts piano dan menyanyikan lagu cinta. Namun detik itu, aku berhasil mengalahkan pria ideal itu dengan mendapatkan wanita tersebut.
Aku merasakan kebahagian yang sangat amat dalam urusan cinta. Setelah sekian lama hati ini jauh dari urusan cinta lawan jenis. Akhirnya ada wanita yang mengucapkan "sayang", kata paling mesra di planet ini.
I hope This is the last time I'll fall... in love. (Eric Benet – Last Time)
Hari itu, H-2 sebelum bulan Ramadhan. Aku memberanikan diri untuk mengajaknya jalan. Jalan yang bukan hanya sekedar jalan, itu yang ada di hati dan pikiranku. Ternyata, wanita itu sedang berpuasa. Aku tambahkan niat untuk menemani wanita itu berbuka puasa.
Bagiku, kesan pertama sangat menentukan. Mungkin hal itu berlaku bagi beberapa pria lain. Tapi diluar sana, belum tentu orang tahu bagaimana perasaanku saat itu. Bagaimana pikiranku bekerja. Pikiranku saat itu terus memikirkan hari itu, hari berikutnya dan tentang aku dan dia.
Ternyata, aku terlambat beberapa menit dari waktu yang telah ditentukan. Dia pun keluar dari rumah dengan suara agak parau. Rupanya dia tertidur. Akhirnya kami pun pergi setelah aku pamit izin dengan ibunya. Hati pun bertambah gusar melihat jalanan yang dilalui sangat padat terlebih matahari hampir tenggelam yang menandakan waktu berbuka untuknya akan tiba.
Mencoba membunuh waktu dengan diskusi dan pertanyaan berbau penyelidikan. Aku bertanya, “Jadi bagaimana dengan Miko?”. Anggap saja itu nama pria yang pernah mengisi hatinya. Kepalanya bergerak naik turun dan diiringi tarikan nafas. Seketika bibirnya pun mengucapkan kalimat yang membuat hatiku tersenyum. Pasti malaikat yang bisa membaca hatiku, pasti paham bahwa itu adalah langkah yang bagus untuk selanjutnya.
Hati ini kembali tersenyum karena berhasil tiba di tempat tujuan setelah melalui jalan tikus yang tak pernah diduga sebelumnya. Namun perasaan bersalah terus menghantuiku karena keterlambatanku membuatnya telat berbuka. Hari itu terus dilalui dengan cerita tentang dirinya yang sungguh menarik untuk didengarkan.
2 hari setelah itu, aku mengajaknya ke sebuah majelis untuk menambah ilmu agama. Awalnya, aku hanya mengetest saja. Setelah dua kali menelpon untuk memastikan, akhirnya dia mau. Hati ini tersenyum dan berkata “Jarang-jarang ada wanita yang mau aku ajak ke tempat seperti ini, semoga saja kami mempunyai visi yang sama”. Selesai acara di majelis itu, aku kembali mengantarkan dia pulang. Terbesit iseng-iseng berhadiah di pikiranku untuk mengajaknya ke acara aku dan teman-teman kampusku, Sahur bersama anak yatim. Sayangnya dia tidak bisa. Bukan masalah untuk aku, mungkin dia sungkan dengan lingkungan ku.
Setelah hari itu, aku sepertinya memantapkan niatku untuk menyatakan perasaanku padanya. Harus, mungkin kata yang lebih tepat. Sebelum aku pergi, sebelum aku menyesal dan sebelum dia mempunyai orang lain.
Tiga hari setelah itu. Aku kembali mengajaknya pergi sekaligus menepati janji yang telah aku buat sebelumnya. Tempat tujuan itu adalah tempat yang cukup romantis untuk melihat sunset di daerah utara Jakarta.
Bibirku saat itu lebih banyak terdiam. Pikiran dan hati kembali bekerja setelah mendengar beberapa kalimat dari dia, seperti rencananya di beberapa hari kedepan. Aku kaget. Kapan waktunya untuk aku yaa. Kapan aku harus mengutarakan perasaanku yaa. Dan kapan dan kapan lainnya.. Ratusan pertanyaan menghampiri aku.
Setibanya di tempat tujuan, kami pun langsung duduk di tempat yang telah aku pesan. Tempat yang menurut ku tepat untuk melihat pemandangan. Akhirnya kembali bercerita panjang lebar tentang aku dan dia. Hati ini akhirnya mempunyai keyakinan untuk bicara. Keyakinan itu muncul ketika aku bertanya “Rencana lo setelah lulus emangnya apa?” dan jawaban dari dia cukup membuatku bernafas lega. Ditambah kalimat ketika ibunya menanyakan siapakah aku.
Akhirnya pun aku menyatakan perasaanku yang membutuhkan dia. Butuh, bukan sekedar mau ataupun iseng. Selang setelah itu diiringi dengan kata “Iya” dari bibirnya. Akupun tersenyum lega. Aku pria yang jauh dari kata pria ideal, tidak mempunyai muka tampan dan badan berotot, kepandaian berkata-kata yang lemah, tidak mampu menekan tuts piano dan menyanyikan lagu cinta. Namun detik itu, aku berhasil mengalahkan pria ideal itu dengan mendapatkan wanita tersebut.
Aku merasakan kebahagian yang sangat amat dalam urusan cinta. Setelah sekian lama hati ini jauh dari urusan cinta lawan jenis. Akhirnya ada wanita yang mengucapkan "sayang", kata paling mesra di planet ini.
I hope This is the last time I'll fall... in love. (Eric Benet – Last Time)
02 November 2009
Istri Umar bin Khatab pun cerewet
Ada artikel bagus, silahkan membaca. Semoga berguna.
Apakah BP4 tersebut?
Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya
*diambil FTJAI yang diolah dari Cahaya Iman, edisi kamis, 30 November 2006-11-30, Indosiar pukul 04:30*
Istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun sama.
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umarbin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengankecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-lakiitu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar.Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umarbin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengankecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-lakiitu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar.Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4.
Apakah BP4 tersebut?
1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.
2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yangsudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yangsudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.
3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.
4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.
5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.
*diambil FTJAI yang diolah dari Cahaya Iman, edisi kamis, 30 November 2006-11-30, Indosiar pukul 04:30*
KESEPIAN DALAM KERAMAIAN, IRONIC THING.
Anak jalanan kembang metropolitan
Selalu ramai dalam kesepian
Anak jalanan kembang metropolitan
Selalu kesepian di keramaian
Tiada tempat mengadu
Tempat mencurahkan isi kalbu...
(Chrisye – Anak Jalanan)
Aku hanya bisa tertawa mendengar lirik dari lagu itu. Lagu itu dinyanyikan oleh alm Chrisye yang dijadikan soundtrack film Ali Topan. Judul lagu itu sama sekali tidak mencerminkan diriku, namun kalimat “tiada tempat mengadu, tempat mencurahkan isi kalbu” dan kalimat ironi dari “selalu kesepian di keramaian” serta sebaliknya, terasa sesuai dengan keadaanku sekarang. Menjadi anak rantau yang jauh dari keluarga dan pacar, yang terpisahkan jarak ruang dan perbedaan waktu yang mencapai 6 jam, membuat aku benar-benar merasa kesepian.
List YM ku malam ini, terdapat 72 nama yang online. Tapi aku yakin hanya 9 orang saja yang benar-benar masih sadar karena mereka memang berada di belahan bumi yang sama denganku. Benar benar ironis. Blog ini menjadi pelarianku saat otak ini merasa buntu karena tugas. Blog yang tidak pernah aku sangka, ternyata bisa menjadi kawanku di tengah malam. Blog yang aku dulunya meremehkan tekhnolgi yang masih ku anggap baru. Terima kasih untuk blogspot.
Tidak bermaksud untuk mengeluh, namun aku tidak mampu membayangkan hidupku di tiap-tiap malam mendatang. Memang sebaiknya bukan dibayangkan, namun dijalankan sebaik-baiknya. Hanya padaMu, hamba yang sendiri ini memohon perlindungan. Bismillah
Selalu ramai dalam kesepian
Anak jalanan kembang metropolitan
Selalu kesepian di keramaian
Tiada tempat mengadu
Tempat mencurahkan isi kalbu...
(Chrisye – Anak Jalanan)
Aku hanya bisa tertawa mendengar lirik dari lagu itu. Lagu itu dinyanyikan oleh alm Chrisye yang dijadikan soundtrack film Ali Topan. Judul lagu itu sama sekali tidak mencerminkan diriku, namun kalimat “tiada tempat mengadu, tempat mencurahkan isi kalbu” dan kalimat ironi dari “selalu kesepian di keramaian” serta sebaliknya, terasa sesuai dengan keadaanku sekarang. Menjadi anak rantau yang jauh dari keluarga dan pacar, yang terpisahkan jarak ruang dan perbedaan waktu yang mencapai 6 jam, membuat aku benar-benar merasa kesepian.
List YM ku malam ini, terdapat 72 nama yang online. Tapi aku yakin hanya 9 orang saja yang benar-benar masih sadar karena mereka memang berada di belahan bumi yang sama denganku. Benar benar ironis. Blog ini menjadi pelarianku saat otak ini merasa buntu karena tugas. Blog yang tidak pernah aku sangka, ternyata bisa menjadi kawanku di tengah malam. Blog yang aku dulunya meremehkan tekhnolgi yang masih ku anggap baru. Terima kasih untuk blogspot.
Tidak bermaksud untuk mengeluh, namun aku tidak mampu membayangkan hidupku di tiap-tiap malam mendatang. Memang sebaiknya bukan dibayangkan, namun dijalankan sebaik-baiknya. Hanya padaMu, hamba yang sendiri ini memohon perlindungan. Bismillah
Cezembre 318, 021109 21.44
Rizki Ananda Febrianto
Itu nama asli gw yang diberikan oleh bonyok. 23 taun yang lalu, dua orang tua gw memberikan nama itu dengan arti "rejeki seorang anak pria di bulan februari". As simple as that but with a great meaning. Mereka punya panggilan khusus untuk gw, yaitu Kiki. Dan nama itu menjadi nama panggilan di dalam keluarga besar. Kadang orang jauh kalo memanggil gw dengan Kiki terasa aneh.
Tapi seiring perjalanan waktu, nama gw pun mengalamai pengembangan. Beberapa nama panggilan yang pernah hadir dalam hidup gw.
1. Ucil.
Gw inget banget, nama itu gw dapet jaman SMP. Sohib gw bernama Satrio Budhi, partner main bola. Just fyi, badan gw waktu jaman itu ga seperti skrg. Dulu gw pendek dan gemuk. Awalnya ga langsung ucil. Waktu itu, gw lg main basket bareng teman2 seangkatan. Saat itu, gw berhasil mengelabui lawan gw yg badannya sedikit lebih tinggi. Budhi pun mencela temen gw itu dengan “yah masa kalah sm yg badan nya lebih kecil” dan dari situ lah berkembang ucil mengingat psotur gw seperti Oni di Tuyul dan Mbak Yul, sebuah film di masa itu. Hingga saat ini pun, nama itu seperti masih awet. Bahkan seolah-olah menjadi nama beken gw.
2. Alen.
Hahaha kocak niy. Jadi masa-masa ospek SMA, sepertinya udah mulai keliatan kalo muka gw pasaran. Dulu pas ospek rambut gw belah pinggir, kacamata bingkai sedikit tebel tapi ga item, yah mirip anak brit tp ga brit2 bgt. Nah anak kelas 3 ada yg setipe gt style nya dan juga muka nya kalo diliat sekilas mempunyai kemiripan. Nama nya Valen. Akhir nya, gw sempet ditanya2in apakah gw adek nya Valen. Alen stands for Adek nya vaLEN. Dan agak lumayan, berkat itu jg, jd sedikit ada backingan dan temen dari senior walau di SMA gw ga ada senioritas yaa. Tapi nama itu cuma bertahan sebulan kurang karena nama ucil lebih beken sebelumnya.
3. Tuyul.
Kalo ini apes bin sialan. Salah seorang wakil kepala sekolah di SMA gw dulu, tau nama gw ucil. Dan tau jg gw masuk ke bagian anak2 yg geng nya doyan tawuran (maklum anak digit blok m, antara pencinta alam ato ga ya yang anti). Awal nya manggil tuyul cuma gara2 kesel dan ucil itu merupakan makhluk bernama tuyul, eh tapi lama kelamaan masi terus aja dipanggil tuyul dan menular ke beberapa guru laennya.
4. Rizki.
Akhirnya sempet juga dpt masa2 dipanggil nama asli. Beberapa bulan setelah menjadi alumni sebuah training SDM, gw mempunyai temen2 baru di lingkungan baru. Memperkenalkan dirilah dengan nama Rizki. Namun itu hanya bertahan 5 bulan saja sepertinya, gr2 temen maen gw dikampus mulai ikut aktif di organisasi alumni itu. Oiya, sempet ada cerita lucu, ketika membantu trening di belakang layar kegiatan ini, diperkenalkan lah sama si pembawa materi dengan nama Kak Rizki kepada para peserta nya. Eeeh ketika peserta itu menjadi alumni dan nyapa gw, dy malah manggil kak.. ckckck I am not that too old.
5. Whisky.
Sialan niy, gara2 bule ga bisa ngucapin R dan Z, akhirnya nama gw sempet beberapa kali salah panggil. Selalu gw ralat ketika dy salah ngucapin nama gw, eh mereka malah maen aman dengan manggil nama gw dengan Ananda. Huff.
Tapi overall, please call me with Rizki Ananda Febrianto.
The most hated statement ; "betah?"

Rasanya telinga ini seperti sangat bosan mendengarkan pertanyaan, "udah betah disana?", "wah betah dong hidup di Eropa", atau "tinggal di Perancis gendutan pasti karena udah mulai betah ya"
Hampir dua bulan aku tinggal disini, kalimat seperti itu sering sekali terdengar. Ibarat lagu TOP 40 yang merajai tangga lagu masa kini. I dont know, hingga saat ini aku belum menemukan titik kenyamanan baru. Atau mungkin, aku menghindari itu.
Iya, sepertinya aku menghindari dan tidak mencari hal itu. Mungkin diri ini terlalu sibuk dan bosan menghadapi tugas tugas dan tugas yang selalu hadir tiap hari dan harus dihadapi tiap malam nya. Sehingga, apa ini bisa membuat aku betah?
Tidak mencari? Mmmh, semenjak diri ini berjanji untuk belajar serius karena mengejar cita dan cinta, rasa nya keputusan untuk tidak mencari "betah", menurut aku tepat. I cant imagine, ketika waktu untuk kembali ke Jakarta tiba, aku malah menolak itu.
Lalu, bagaimana menjawab atau menghindari pertanyaan itu? Apa iya aku harus cerita alasan dibalik itu? Apa aku harus marah bila ada yang bertanya? Aku tidak menginginkan perdebatan tapi aku ingin semua orang yang bertanya itu mengerti. At least, sampai detik ini aku bisa beradaptasi dengan kehidupan baru ku dan tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang aku sayang di Jakarta. Itu cukup bagiku saat ini.
diatas meja perpustakaan kampus, 021109, 13.22
Hampir dua bulan aku tinggal disini, kalimat seperti itu sering sekali terdengar. Ibarat lagu TOP 40 yang merajai tangga lagu masa kini. I dont know, hingga saat ini aku belum menemukan titik kenyamanan baru. Atau mungkin, aku menghindari itu.
Iya, sepertinya aku menghindari dan tidak mencari hal itu. Mungkin diri ini terlalu sibuk dan bosan menghadapi tugas tugas dan tugas yang selalu hadir tiap hari dan harus dihadapi tiap malam nya. Sehingga, apa ini bisa membuat aku betah?
Tidak mencari? Mmmh, semenjak diri ini berjanji untuk belajar serius karena mengejar cita dan cinta, rasa nya keputusan untuk tidak mencari "betah", menurut aku tepat. I cant imagine, ketika waktu untuk kembali ke Jakarta tiba, aku malah menolak itu.
Lalu, bagaimana menjawab atau menghindari pertanyaan itu? Apa iya aku harus cerita alasan dibalik itu? Apa aku harus marah bila ada yang bertanya? Aku tidak menginginkan perdebatan tapi aku ingin semua orang yang bertanya itu mengerti. At least, sampai detik ini aku bisa beradaptasi dengan kehidupan baru ku dan tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang aku sayang di Jakarta. Itu cukup bagiku saat ini.
diatas meja perpustakaan kampus, 021109, 13.22
hufff
And the morning is for you
And the air is free
And the birds sing for you
And your positivity
(Suede - Positivity)
perpustakaan pagi galau, 021109 09.37
And the air is free
And the birds sing for you
And your positivity
(Suede - Positivity)
Keluar kamar pagi hari, secara tak sadar diri ini mendendangkan lagu tersebut. I dont know why, It happened suddenly. Mungkin kalo dipikir-pikir dari kejadian malam hari, diri ini sempat goyah akan nama nya hidup menjadi anak rantau. Jauh dari kehidupan nyaman di Jakarta. Mungkin bisa dibilang homesick tp belum separah itu juga sih.
Otak terus berputar namun tetap tidak menemukan jawaban. Padahal diri ini senantiasa mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta. Apakah kurang kuantitas nya?
Whatever it takes, I must sure about what I am doin' here. It must be greatest thing for my future. I hope so.
Otak terus berputar namun tetap tidak menemukan jawaban. Padahal diri ini senantiasa mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta. Apakah kurang kuantitas nya?
Whatever it takes, I must sure about what I am doin' here. It must be greatest thing for my future. I hope so.
perpustakaan pagi galau, 021109 09.37
01 November 2009
My LIFE according John Mayer song



A few months ago, Ive got this note form my friend. It likes, you describe yourself according your favourite musician. Well, at the first time, I thought it is weird but I enjoy to fill it and finally I can finish it. I pick John Mayer, gw dengerin musik nya dy dari jaman SMA kelas 2, lagu nya dia dulu smpt jadi partner bwt gw belajar nyetir dan sangat ngarep bgt kalo gw bs ntn konser nya dy.. Ok ini jawaban gw.
Using only song names from ONE BAND or ARTIST, cleverly answer these questions. Pass it on to 15 people you like and include me. You can't use the band I used. Try not to repeat a song title.
Artist: John Mayer
Are you a female: Not Myself (of course not)
Describe yourself: Bold As Love
How do you feel: Slow Dancing In A Burning Room
Describe where you currently live: In Your Atmosphere
If you could go anywhere, where would you go: City Love
Your favorite form of transportation: Stop This Train
Your best friend is: Gravity
You and your best friends are: The Heart of Life
What's the weather like: Clarity
Favorite time of day: No Such Thing / Dreaming
If your life was a TV show, what would it be called: In repair (pimp my ride on MTV will be changed into pimp my life to the better life.hehe)
What is life to you: Waiting For The World To Change
Your relationship: Good Love Is On The Way
Your fear: I Don't Trust Myself and Something Missing
What is the best advice you have to give: Come Back To Bed
How I would like to die: Free Fallin' or 3 X 5
My soul's present condition: Bigger Than My Body
My Motto: Say (What You Need To Say)
Subscribe to:
Posts (Atom)

